JAKARTA – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab tidak akan melakukan rekonsiliasi dengan pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin demi pulang ke Indonesia.
Rizieq diyakini akan tetap berada sebagai pengkritik pemerintah dan barisan oposisi.
“Rizieq ini passion-nya tidak akan rekonsiliasi, tetap dia akan menjadi oposan. Tetap akan kritis terhadap pemerintah. Saya menyebutnya, iman politik Rizieq oposan, berada di luar kekuasaan,” jelas pengamat politik Adi Prayitno, Sabtu (7/11/2020).
Dari kacamata Dosen Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta ini, Rizieq tidak akan berubah sikap meski dibelit kasus hukum.
“Rizieq akan tetap menjadi Rizieq, dengan para pengikutnya yang tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Karena memang begitu style-nya,” kata Adi.
Direktur eksekutif Parameter Politik Indonesia ini menambahkan, justru di situlah letak kelebihan Rizieq. Membuat dirinya banyak dikagumi kelompok tertentu.
“Dia menjadi pembeda dengan tokoh lain. Kalau yang lain kan rekonsiliatif, melunak. Kalau Rizieq saya yakini enggak. Inilah yang membuat Rizieq sampai sekarang trending,” katanya.
Adi menilai, jika Habib Rizieq pulang dan kemudian melunak terhadap pemerintah, maka hal itu justru akan menghilangkan daya tarik yang dimilikinya selama ini.
“Soal rumor bakal dapat jabatan, Rizieq saya kira sudah melampaui isu seperti itu. Dia sudah fokus menjadi idola kelompok Islam di luar NU dan Muhammadiyah. Rekonsiliasi, iming-iming posisi, saya kira Rizieq tidak di situ. Dia akan terus mengkritik pemerintah. Kalau yang lain malah cenderung melunak,” tandasnya. (sam)











Komentar