oleh

Dikenal Kontroversial, Pernah Siram Lawan Bicara saat Dialog tentang Sweeping di Bulan Ramadhan

JAKARTA – Eks Sekretaris Jenderal Front Pembela Islam (FPI) Munarman ditangkap Tim Densus 88 Antiteror, Selasa (27/4/2021) sekitar pukul 15.30 WIB.

Tokoh yang mengawali karier di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) itu termasuk sosok kontroversial.

Kalangan aktivis prodemokrasi dan kemanusiaan semula mengenalnya sebagai rekan seperjuangan.

Belakangan mereka kaget ketika tiba-tiba Munarman masuk dan jadi bagian elite Front Pembela Islam.

Ia pun jadi sosok temperamental, dan tak ragu menunjukkannya di muka umum.

Misalnya pada penyerangan terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan atau AKKBB di Monas 1 Juni 2008.

Munarman terekam turut bertindak keras atas orang-orang yang saat itu turut dalam apel kebangsaan tersebut.

Baca:   Komnas HAM Mau Panggil Kapolda Metro dan Dirut Jasa Marga 

Aksi temperamen itu ditunjukkan pula di depan publik pemirsa televisi, pada 28 Juni 2013.

Kala itu, Munarman SH menyiramkan air minum kepada pengamat sosial, Dr Tamrin Amal Tomagola.

Saat itu keduanya hadir sebagai narasumber dalam perbincangan di acara Apa Kabar Indonesia Pagi, yang disiarkan langsung tvOne, Jumat (28/6/2013) pagi.

Keduanya dihadirkan untuk membahas pelarangan sweeping di tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan.

Silang pendapat antara keduanya terjadi saat membahas aksi sweeping.

Munarman menyatakan tak sependapat pada apa yang dilontarkan Tamrin.

“Sekarang, beliau ini melihat hilirnya. Ketika masyarakat, ibu-ibu, mengambil tindakan sendiri, tidak…,” ujar Munarman, yang kemudian dipotong Tamrin.

Baca:   Muhammadiyah Minta Polisi Terbuka Soal Penembakan Laskar FPI

“Dengar dulu, Anda tidak tahu apa yang Anda maksud,” kata Tamrin.

Munarman terlihat emosi. “Anda diam kalau saya lagi ngomong,” kata Munarman sambil mengambil cangkir di depannya dan menyiramkannya ke wajah Tamrin.

Pada bulan September 2007 Munarman sempat ditahan di Polsektro Limo, Depok.

Ia jadi tersangka kasus perampasan kunci kontak, SIM dan STNK sopir taksi Blue Bird.

Kala itu, pulang mengantar istrinya dari rumah sakit terjadi kecelakaan antara mobil Grand Vitara miliknya dengan Taksi Blue Bird.

Munarman lalu mengambil kunci kontak, SIM dan STNK sopir taksi. Pihak Blue Bird melaporkan kasus itu ke Polsketro Limo.

Baca:   Pemerintah Harapkan Jabar Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

Munarman menolak tuduhan membawa senjata api, dan mengaku bahwa saat kejadian ia hanya membawa mistar stainless.

Pada bulan November 2012 Munarman dikeroyok dua orang lantaran membunyikkan klakson berkali-kali di tengah kemacetan.

Saat itulah ia keluar dari kediamannya di kawasan Pondok Cabe mengendarai Mistubishi Pajero.

Lajunya terhalang kemacetan arus lalu-lintas. Ia pun membunyikan klakson berulang-ulang.

Dua pengendara sepeda motor yang tidak menyukai tindakannya lalu turun dan terjadi cekcok di tengah kemacetan.

Munarman turun dari kendaraanya, setelah memepet pemotor itu. Ia menghardik, pengendara motor balas mencekal dia lalu mengeroyoknya. (*)

Komentar

Berita Lainnya