oleh

KLH/BPLH Perkuat Kolaborasi dan Teknologi demi Mewujudkan Sungai yang Lestari

SIBERINDO.CO – Sungai bukan sekadar aliran air, tetapi sumber kehidupan yang menghidupi masyarakat, mendukung pangan, energi, serta menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, menjaga sungai berarti menjaga keberlanjutan kehidupan manusia dan alam. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan bahwa pengelolaan sungai ke depan membutuhkan pendekatan yang lebih kuat melalui teknologi, perencanaan terpadu, serta keterlibatan masyarakat sebagai penjaga utama di tingkat tapak

Semangat tersebut mengemuka pada perhelatan Konferensi Sungai Indonesia 2026 di Sumber Gempong, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dalam rangka menyambut Hari Sungai Nasional. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi komunitas sungai, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat perlindungan serta pemulihan sungai di Indonesia.

Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLH/BPLH, Tulus Laksono, mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat pemantauan kualitas air sungai.

“Untuk air sungai, kita ada online monitoring yang ONLIMO. Ini juga otomatis pakai sensor sehingga setiap hari kita juga tahu kualitas air sungai di Indonesia, tentunya yang sudah dipasangnya alat ini. Jadi, kalau tidak online akan susah kita untuk mengetahui sungai ini karena sangat berat untuk pelaksanaannya. Jadi, ini instrumen yang kita bangun sekarang,” ujar Tulus.

Menurut Tulus, perlindungan sungai juga harus didukung dengan perencanaan yang terintegrasi melalui Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air (RPPMA) sebagai pedoman bersama seluruh pemangku kepentingan.

“Setiap sungai itu mestinya memang punya perencanaan. Sekarang setelah PP No 22 Tahun 2021 keluar, baru tiga sungai yang dikeluarkan perencanaan pelindungan dan baku mutu airnya. Jadi Ciliwung, Citarum. Jadi, RPPMA ini disusun oleh semua stakeholder yang terlibat di dalam pengolahan sungai. Nah, itu juga nanti pegangan teman-teman semua. Teman-teman di komunitas nanti juga mesti tahu RPPMA di setiap sungai itu kayak apa. Karena di situ detail. Apa yang harus dilakukan di sungai itu detail. Nah, itu juga bisa menjadi alat kontrol,” tambah Tulus.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Nurkholis, menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sungai. Berbagai program seperti Susur Sungai dan Patroli Sungai terus dikembangkan untuk membangun kepedulian masyarakat.

“Ada sekitar 100 lebih sungai yang melintas di Provinsi Jawa Timur ini. Baik itu yang menjadi kewenangan dari pusat, Bengawan Solo maupun Brantas, maupun yang kewenangan provinsi. Kami ini ada program tiap tahun, bahkan yang terakhir itu namanya ada Susur Sungai, ada namanya Patroli Sungai. Bahkan Susur Sungai kemarin lebih 1.000 kami libatkan, Pak,” jelas Nurkholis.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, menegaskan bahwa sungai memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional, terutama untuk ketahanan pangan dan energi.

“Kita sudah bisa lihat bagaimana sungai dan jaringan irigasi ini mampu mendukung swasembada pangan. Kemudian sungai juga sudah kita lihat bisa mendukung ketahanan energi nasional. Apakah itu sungai yang langsung kita bisa bangun pembangkit listriknya seperti di PLTA Bakaru di Sulawesi Selatan. Dan ini sudah semakin advance, tidak hanya di sungai tapi kita juga sudah membangkitkan energi di tampungan-tampungannya. Seperti yang di Cirata, ini sungai Citarum,” ungkap Fahmi.

Konferensi Sungai Indonesia 2026 juga menjadi bagian dari penguatan Gerakan Tobat Ekologis, sebuah ajakan untuk membangun kesadaran bersama dalam menghentikan pencemaran, memulihkan lingkungan, dan merawat kembali sungai sebagai sumber kehidupan.

Melalui forum ini, KLH/BPLH mendorong penguatan kolaborasi seluruh pihak agar sungai Indonesia tetap terjaga. Sebab, sungai yang sehat bukan hanya menjaga ekosistem, tetapi juga memastikan keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat dari generasi ke generasi.

Berita Lainnya