oleh

Ekonom Sebut Pemulihan Ekonomi RI Lumayan Berat

JAKARTA – Pengamat ekonomi mengatakan proses pemulihan ekonomi Indonesia sangat tergantung pada penanganan pandemi dan ketersediaan vaksin, sementara stimulus kebijakan yang diluncurkan hanya untuk menahan agar kontraksi ekonomi tidak terlalu dalam.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan sejak awal lembaganya memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 akan terkoreksi minus 2 hingga minus 3 persen.

Perkiraan tersebut bahkan jauh lebih besar dari perkiraan terbaru IMF yang memproyeksikan Indonesia mengalami kontraksi minus 1,5 persen pada tahun ini.

“Perkiraan kontraksi ini karena pandemi belum tertangani, sementara kebijakan stimulus bukan untuk mendorong ekonomi tumbuh,” jelas Piter Rabu (14/10).

Dia mengatakan tanpa program stimulus, kontraksi ekonomi bisa mencapai minus 4 hingga minus 5 persen atau bahkan lebih dalam lagi karena adanya pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi.

Baca Juga:   Gebyar Vaksinasi "Sumdarsin" di Tanjung Raya Targetkan 1.000 Dosis

Oleh karena itu, Piter mengatakan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 mulai membaik dan bisa mencapai asumsi pertumbuhan pemerintah sekitar 4 hingga 5 persen apabila vaksin sudah tersedia dan terdistribusi sejak awal tahun.

“Artinya kalau sebelum kuartal kedua 2021 kita sudah terbebas dari pandemi, target pertumbuhan ekonomi bisa tercapai,” ungkap Piter.

Sementara apabila Indonesia baru terbebas dari pandemi dengan ketersediaan vaksin pada semester kedua, maka pertumbuhan ekonomi kemungkinan hanya 2 hingga 3 persen.

Baca Juga:   Pemerintah Larang Ekspor Minyak Goreng Mulai 28 April

“Tapi kalau kita benar-benar bebas pandemi pada akhir tahun depan, maka kemungkinan pertumbuhan ekonomi kita bisa negatif lagi,” lanjut dia.

Komentar

Berita Lainnya