oleh

Obat Corona Ternyata Belum Ada, Guru Besar UGM: Manfaatkan Saja Herbal

JAKARTA – Belakangan ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan izin penggunaan remdesivir dalam penanganan pasien Covid-19 dengan syarat kondisi darurat kesehatan atau emergency use authorization (EUA).

Pemberian izin yang distribusinya diberikan kepada PT Kalbe Farma Tbk ini menarik perhatian publik. Remdesivir yang sejak awal pandemi digunakan di Amerika Serikat ini terkenal sebagai obat mahal.

Selain itu, belum terbukti dapat mengobati pasien  Covid-19, seperti halnya obat-obat jenis lain yang juga digunakan pemerintah yakni oseltamivir, favipiravir, dan lopinavir.

Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Zullies Ikawati mengatakan hingga saat ini belum ada obat corona.

Namun ia menyatakan beberapa obat antivirus menjanjikan dalam terapi pasien Covid-19.

”Dari proses uji itu, sepertinya remdesivir yang memang paling promising hasilnya,” kata Zullies yang dilansir Katadata.co.id, belum lama ini.

Baca Juga:   Tempat Wisata Way Bekhak Tanggamus Ditutup Sementara

Zullies menjelaskan banyak hal mengenai berbagai terapi untuk pengobatan Covid-19, termasuk regeneron yang digunakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat positif terkena Covid-19.

Dia juga menjelaskan kemampuan herbal hingga empon-empon untuk untuk meningkatkan imunitas pasien corona.

Memang sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar efektif dalam pandemi Covid-19. Pertama kali yang digunakan adalah klorokuin dan hidroksiklorokuin.

Baca Juga:   Bogor Batasi Pusat Keramaian Sampai Pukul 19.00

Negara lain ada yang mencoba obat lain seperti lopinavir/ritonavir serta remdesivir. Karena belum ada yang terbukti secara klinis, maka maka WHO mengorganisir solidarity trial.

Ada empat kelompok pengobatan yang diujikan, yakni remdesivir, lopinavir/ritonavir, hidroksiklorokuin-klorokuin, kemudian plasma convalescent. (oke/sep)

Komentar

Berita Lainnya