POLMAN–Karena ketiadaan jembatan penghubung, puluhan anak di Dusun Sanreko, Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat terpaksa berjalan di sungai untuk sampai ke sekolah. Demikian pula ketika pulang sekolah.
Seringkali mereka harus menantang maut, menerobos air sungai yang meluap. Ketiadaan akses jalan lain, memaksa anak-anak di dusun ini mengalahkan rasa takut, demi menuntut ilmu.
“Tiap hari mesti melewati sungai ini, tidak ada jalan lain, mesti melewati sungai,“ ujar salah satu anak, Mariana, kepada wartawan, Selasa siang (7/9/2021).
Diakui Mariana, tidak jarang dirinya gagal melanjutkan perjalanan menuju sekolah, lantaran pakaian yang dikenakan basah saat mencoba menyeberangi sungai yang meluap. Apalagi saat musim penghujan seperti sekarang ini.
“Kalau air besar tidak ke sekolah, karena biasa pakaian basah saat melintas, terpaksa kita kembali (pulang), tidak bisa ke sekolah,“ ungkapnya sambil tertawa.
Kesulitan akibat ketiadaan jembatan penghubung kedua sisi sungai, tidak hanya dirasakan anak sekolah, tetapi juga warga lainnya.
Salah satunya Nurjannah, yang mengaku kesulitan mendapatkan sembako ketika air sungai meluap.
“Kalau musim hujan, kita tidak bisa ke mana-mana, kalau tidak ada beras di kampung kita menderita, biasa saya mencoba lewat pakai motor, tapi sering jatuh,“ tuturnya.
Menurut Nurjannah, dahulu pernah ada jembatan yang menghubungkan kedua sisi sungai selebar lebih kurang tujuh meter ini. Namun, keberadaan jembatan tersebut tidak lama, lantaran hancur akibat diterjang banjir.
“Jembatannya dulu ada, baru satu tahun berjalan, hanyut, sudah sangat lama, tidak pernah diperbaiki,“ terangnya.
Nurjannah berharap, pemerintah segera membangun jembatan penghubung, untuk mengatasi kesulitan yang dirasakan warga, khususnya anak-anak yang hendak ke sekolah. Apalagi menurut dia, anak-anak di daerah ini juga harus berjalan kaki sejauh satu setengah kilometer untuk sampai ke sekolah.
“Semuanya mesti melewati sungai ini, kalau deras arus tidak bisa menyeberang. Terkadang anak-anak terkendala ke sekolah, biasa basah-basahan, orangtua juga harus berjaga-jaga, ada yang memikul anaknya untuk seberangi sungai. Tidak ada jalan lain, dari kampung ke sekolah, sekira satu setengah kilometer, ditempuh dengan berjalan kaki,“ pungkas Nurjannah. (thaya/red)
Editor: Sulaeman Rahman











Komentar