KOTO MALINTANG – Pohon Medang (Litsea sp) terbesar di dunia ada di hutan Jorong Ambacang, Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Menurut informasi yang diperoleh KABA12.com, pohon Medang ini berusia sekitar 560 tahun, berdiameter 4,6 meter, lingkar batang 14 meter, tinggi cabang 34 meter, dan tinggi total keseluruhan mencapai 50 meter.
Tumbuhan anggota suku Lauraceae ini biasanya berupa pohon atau semak. Anggota “keluarga”nya ada sekitar 200 sampai 400 jenis, tersebar di kawasan tropika dan subtropika.
Kebanyakan berasal dari Asia (sekitar 300-an), sisanya dari Australia, Pasifik, dan sedikit di benua Amerika.
Wakil Bupati Agam Irwan Fikri yang meninjau pohon ini Kamis (4/11/2021) menyampaikan rencana pemerintah menjadikan hutan Jorong Ambacang ini sebagai zona kawasan ekosistem esensial (KEE).
“Untuk itu, kami dari pemerintah daerah akan segera menyiapkan perangkat hukumnya,” ujarnya.
Di samping itu, pihaknya menyambut positif kawasan tersebut dijadikan sebagai objek wisata alam.
Ia juga menilai, lokasi itu dapat dijadikan sebagai kampus alam karena siapa pun yang berkunjung akan belajar tentang menjaga alam.
Saat peninjauan, Wabup didampingi Camat Tanjung Raya Handria Asmi, Wali Nagari Koto Malintang Naziruddin Dt Palimo Tuo, petugas BKSDA Resor Agam, Polsek Tanjung Raya, dan masyarakat sekitar.
Menurut Irwan Fikri, keberadaan pohon besar itu membuktikan bahwa masyarakat setempat sudah menjaga lingkungan alam dengan baik.
Bahkan wali nagarinya juga pernah mendapatkan penghargaan di tingkat nasional pada 2013 silam.
“Masyarakat Nagari Koto Malintang sudah menunjukkan bagaimana perjuangan dan semangat mereka menjaga lingkungan,” katanya.
Dia berharap, semangat ini dapat terus menyebar agar masyarakat lainnya dapat memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan.
Irwan menyatakan, pihak terkait juga punya wacana untuk menjadikan lokasi tumbuhnya pohon besar itu sebagai kawasan eksklusif dan dilindungi.
“Ketika masyarakat berkunjung, , jangan sampai merusak alam yang sudah terjaga ini. Semestinya mereka menjadikan tempat ini sebagai tempat belajar menjaga alam dan lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Agam juga mendukung penuh pengembangan objek wisata alam di Nagari Koto Malintang.
Hal itu, katanya, sesuai dengan visi misi bupati dan tertuang dalam RPJMD. Bahwa, menjadikan sektor pariwisata sebagai produk unggulan untuk mengungkit perekenomian masyarakat.
“Nah, objek wisata alam ini bisa dimanfaatkan, tinggal bagaimana camat, wali nagari dan tokoh masyarakat membangun komunikasi sehingga kami tau apa yang perlu di support,” ujarnya. (Bryan/kaba12.com)











Komentar