oleh

Tips Menasihati Saudara yang Berdosa Ala Yesus

-Headline, News-116 views

SIBERINDO.CO – Gereja Indonesia menetapkan bulan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Mengutip sambutan Mgr. Silvester San dalam buku BKSN 2026, beliau menulis “Bulan Kitab Suci merupakan momentum berahmat bagi umat Katolik untuk makin mendekatkan diri dan mencintai sabda Allah dengan mendengarkan dan menghidupi-Nya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Gereja senantiasa mengajak umat untuk kembali kepada Kitab Suci, sebab melalui sabda-Nya, Allah sendiri berbicara, menuntun, dan membentuk hidup umat-Nya.” Setiap awal September ditetapkan sebagai Hari Minggu Kitab Suci. Sering kali perayaan liturgi akan diawali dengan perarakan Kitab Suci. Perarakan Kitab Suci dimaknai sebagai penghormatan tertinggi terhadap Sabda Allah yang hadir dan berkarya di tengah umat.

Sabda Tuhan yang kita dengar minggu ini merupakan bagian dari pengajaran Yesus tentang membina komunitas. Konteks dari kumpulan pengajaran ini (Mat 18:1-35) adalah kesadaran bahwa Yesus tidak bisa terus-menerus berada di sisi murid-murid-Nya, sebab Ia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Ada saatnya nanti Ia tidak bisa lagi menjaga para murid secara langsung, sehingga mereka harus mulai belajar hidup mandiri. Untuk itu, Yesus menasihati para murid dan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Masing-masing harus bersikap rendah hati seperti seorang anak kecil (Mat 18:1-5). Mereka juga hendaknya saling menjaga satu sama lain, yakni dengan saling mengampuni (Mat 18:21-35), tidak bersikap menang sendiri, tidak menyesatkan orang lain (Mat 18:6-10), dan kalau ada di antara mereka yang salah jalan, orang itu sedapat mungkin harus diajak untuk kembali (Mat 18:15-20). Demikianlah Yesus dalam Injil Matius meletakkan fondasi pembangunan persekutuan.

Kita tahu banyak orang Katolik terlibat dalam berbagai pelayanan di Gereja, entah menjadi prodiakon, lektor, pemazmur, kelompok koor, kelompok pelayanan sosial karitatif mulai dari pembagian sembako sampai pengobatan gratis. Semua ini adalah yang baik dan merupakan ungkapan iman untuk membangun Kerajaan Allah.

Namun perlu disadari juga bahwa sering kali ada kerikil kerikil tajam dalam membangun komunitas. Ketika pelayanan kita terlalu semangat bergerak keluar, sering kali kita lupa untuk bergerak ke dalam yakni yakni untuk membangun dan memperkokoh relasi orang-orang yang ada di dalamnya. Maka dalam intern komunitas sering timbul perselisihan dan perpecahan.

Injil hari ini mengajak kita untuk tidak menyingkirkan saudara yang berdosa. Mereka yang tersesat tidak boleh didepak dari jemaat, tetapi justru harus dirangkul dan diajak untuk kembali. Inilah yang diajarkan Yesus di Mat. 18:15-20. Selanjutnya Yesus mengajarkan tahapan-tahapan dalam menasihati saudara yang berdosa agar mereka kembali dalam persekutuan Jemaat.

Pertama, menegur di bawah empat mata. Artinya kita diajak untuk bicara secara pribadi dan menjelaskan apa “kesalahan” yang dilakukan saudara kita itu. Kedua, jika langkah pertama pertama gagal, Yesus mengajarkan kita untuk melibatkan dua atau tiga orang saksi. Hal ini mau menunjukkan bahwa kesaksian dua atau tiga orang lebih kuat untuk menyatakan kebenaran. Kehadiran dua atau tiga orang ini tidak dimaksudkan untuk mengadili atau memojokkan tetapi untuk menyadarkan saudara yang berdosa akan kesalahannya. Jika saudara yang berdosa itu tetap kepala batu, Yesus menawarkan langkah ketiga, yakni membawa ke hadapan jemaat. Langkah ketiga yang diajarkan Yesus bukan seperti pengadilan masal, tetapi dibawa kepada tokoh-tokoh umat yang mewakili suara jemaat, sehingga keputusan mereka dianggap sebagai keputusan jemaat.

Tidak mau sadar juga? Apa boleh buat, saudara ini rupanya benar-benar keras kepala dan tidak bisa ditangani lagi. Apa yang harus dilakukan jemaat? Yesus mengajarkan, “Pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”

Ini bukan ajakan agar seluruh jemaat kompak memusuhi, mengucilkan, atau menyingkirkan orang itu. Yang dimaksudkan Yesus, usaha-usaha untuk menyadarkan orang berdosa itu kiranya sudah cukup. Jemaat tidak perlu lagi berurusan dengannya. Anggap saja dia itu orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai, kalangan yang dipandang sebagai orang-orang berdosa. Tugas untuk menyadarkan orang itu sekarang diambil alih oleh Bapa sendiri, yang dengan satu dan lain cara akan berupaya mendekati dan mengembalikan anak-Nya yang hilang itu.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Harus diakui menasihati saudara se-komunitas yang berdosa bukanlah hal mudah. Yesus mengajarkan bagaimana cara menghadapi saudara yang berdosa. Yesus tidak mengajarkan untuk diam dan tidak peduli atas kesalahan yang dilakukan saudara kita di komunitas kita. Mari dalam kesempatan Minggu Kitab Suci Nasional kita mengambil inspirasi dari Kitab Suci untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di komunitas kita.

Kita yakin bahwa Sabda Allah itu hidup dan terus berbicara kepada kita. Mari kita jadikan Bulan Kitab Suci Nasional 2026 ini sebagai momentum bagi kita dan keluarga kita untuk meluangkan waktu membaca Sabda Tuhan dan menimba kekayaan rohani di dalamnya. Tuhan Yesus memberkati.(***)

 

Berita Lainnya