oleh

Direndam Banjir, Pembelajaran di Sekolah Alam Tetap Berjalan

PANGKALAN BUN–Sekolah Alam Bina Insan di jalan Rusa lll RT 14 Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat direndam banjir. Tetapi Banjir tidak mematahkan semangat murid-muridnya untuk menuntut ilmu dan aktivitas belajar mengajar tetap berjalan dengan seperti biasanya, Senin (6/9/2021).

Ketua Yayasan Sekolah Alam Bina Insan Burhanuddin mengatakan, munculnya genangan air ini merupakan Banjir kiriman dari daerah atas seperti Lamandau, Aruta, Runtu yang lebih dulu banjir, di saat yang sama hujan setiap hari siang dan malam.

“Akibatnya halaman dan ruang kelas Sekolah Alam Bina Insan tergenang air setinggi setinggi lutut orang dewasa,” katanya.

Menurut Burhanuddin pada saat musim penghujan datang, Sekolah Alam Bina Insan sudah menjadi langganan Banjir bahkan sampai berhari-hari.

Banjir menyapa Bina Insan sejak tanggal 3 September. Saat itu masyarakat sekitar bilangnya Banjir 20 tahunan, tapi kini 2021 ternyata sudah Banjir lagi. Kejadian ini sering terjadi dan hampir menjadi langganan di sekolah ini sehingga para murid menjadi terbiasa dengan kondisi seperti ini,” ucapnya.

Baca Juga:   Hujan Tinggi di Hulu dan Medan Akibatkan Banjir, Walikota Bobby Turun Perbaiki Drainase

Sekolah Alam Bina Insan Pangkalan Bun memberi pesan kepada semua pihak agar menjaga kelestarian alam ini. “Khususnya kepada pengambil kebijakan, marilah bijak dalam mengambil kebijakan, perhatikan dampak yang akan ditimbulkan dalam jangka pendek dan panjangnya,” tutur Burhanuddin.

“Khususnya para pengusaha yang usahanya harus menggunduli hutan, mari berfikirlah secara bijak, befikir antara manfaat dan dampak madharatnya,” sambungnya.

Baca Juga:   Longsor Merusak 15 Rumah Warga Sejumlah Desa Sempat Terisolasi

Pihaknya berharap kepada pemerintah daerah agar bisa membuatkan tanggul keliling di sekitar lokasi Sekolah Alam Bina Insan yang nota bene menjadi bagian dari lembaga yang membantu program pemerintah dalam turut serta mencerdaskan anak bangsa.

“Jangka panjangnya, bagaimana pemerintah bisa mengembalikan hutan yang sudah menjadi perkebunan sawit bisa kembali menjadi hutan yang produktif yang bisa menjadi sarana menampung, menahan dan menyerap air hujan yang turun,” pungkasnya. (yus)

Komentar

Berita Lainnya