oleh

Mei Masih Rawan, Sudah Lebih 470 Warga Tewas, 60 Hilang, 5 Juta Mengungsi

JAKARTA – Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa hujan sebagai salah satu pemicu Banjir dan longsor, masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah pada Mei.

Sedangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana hidrometeorologi masih dominan sepanjang Januari – April 2021.

Bencana Banjir paling sering terjadi pada jenis bencana tersebut. Ini dipicu curah hujan dengan intensitas tinggi di berbagai wilayah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.205 bencana alam terjadi dari 1 Januari 2021 hingga 30 April 2021.

Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor, dominan terjadi pada periode waktu tersebut.

Bencana Banjir merupakan yang paling sering terjadi yakni 501 kali, disusul angin puting beliung 339, dan tanah longsor 233.

Baca Juga:   Sebagian Besar Wilayah Indonesia Berpotenai Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang

Dilihat dari periode waktu tersebut, total jumlah kejadian mengalami kenaikan 1% dari tahun sebelumnya.

Sedangkan korban meninggal, total jumlah mengalami kenaikan 1,83%.

Bencana alam pada periode 1 Januari 2021 hingga 30 April 2021, meliputi Banjir 501 kejadian, dan angin puting beliung 339.

Setelah itu, tanah longsor 233, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 97, gempa bumi 18, gelombang pasang dan abrasi 16, dan satu kekeringan.

Pada periode tersebut, bencana alam mengakibatkan korban meninggal 479 jiwa, hilang 60, luka-luka 12.900 dan menderita serta mengungsi hingga 5 juta jiwa.

Bencana alam yang mengakibatkan korban meninggal tertinggi yaitu Banjir 267 jiwa, gempa bumi 117.

Kemudian tanah longsor 86, angin puting beliung 7, dan karhutla serta gelombang pasang masing-masing satu.

Baca Juga:   Dampak Banjir Bandang di Parigi Moutong Meluas

Pihak BNPB mencatat, bencana menyebabkan kerusakan sektor perumahan dengan kategori rusak berat 14.936 unit, rusak sedang 23.347 dan rusak ringan 83.629.

Selain kerusakan rumah, bencana alam juga menyebabkan kerusakan tempat ibadah 1.363 unit, pendidikan 1.350, perkantoran 494, kesehatan 347 dan jembatan 295.

Menyikapi kejadian bencana, masyarakat diimbau selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

Ancaman bencana hidrometeorologi belum berakhir, ini terbukti dengan kejadian tanah longsor di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, jelang akhir April lalu.

Pihak BMKG juga merilis peringatan dini cuaca Minggu (2/5/2021) beberapa wilayah masih berpotensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang.

Baca Juga:   Seorang Balita Jadi Korban Tanah Longsor

Kondisi cuaca itu mencakup Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Kemudian Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara dan Maluku.

Di samping potensi bahaya hidrometeorologi, masyarakat diimbau juga mewaspadai potensi bahaya geologi, khususnya gempa bumi.

Gempa bumi dapat terjadi kapan dan dimana saja. Oleh karena itu, masyarakat diimbau selalu menyiapkan sejak dini upaya-upaya kesiapsiagaan.

Langkah selanjutnya yaitu menyiapkan strateginya dengan membuat rencana kesiapsiagaan keluarga atau pun latihan di tingkat keluarga.

Beberapa waktu lalu BNPB mengajak semua pihak untuk melakukan Latihan, tepat pada Hari Kesiapsiagaan Bencana, yang jatuh pada 26 April. (*)

– Sumber: bnpb.go.id

Komentar

Berita Lainnya