JAKARTA – Jemaah tarekat Syattariyah di Aceh dan jemaah Naqsabandiyah di Sumatera Barat memulai puasa Ramadan 1443 Hijriah, lebih awal, yakni Kamis dan Jumat (1-2/4/2022).
Sementara jemaah An Nadzir di Gowa, Sulawesi Selatan, menetapkan awal puasa penuh jatuh pada hari Sabtu (2/4/2022).
Namun jemaah An Nadzir selalu berpuasa sehari sebelumnya untuk menyambut ramadhan. Jadi, Jumat (1/4/2022) mereka sudah mulai berpuasa.
Jemaah Naqsabandiyah memulai ibadah puasa mengacu pada hitungan Hisab Qomariyah dalam Kitab Munjid.
Penghitungan permulaan puasa dihitung lima hari setelah awal puasa tahun sebelumnya.
Sekretaris tarekat Naqsabandiyah Padang, Edizon Revindo mengatakan, puasa Ramadan tahun sebelumnya dimulai hari Senin, sehingga tahun ini dimulai pada Jumat.
“Kami menghitung lima hari setelahnya dan dimulai dari hari Senin, sehingga tahun ini dimulai dari Jumat,” katanya, Rabu (30/3/2022).
Selain di Padang, jemaah Naqsabandiyah di Kabupaten Solok, Solok Selatan, Pesisir Selatan dan Kota Solok juga mulai puasa Ramadan pada hari Jumat (1/4/2022).
Jemaah Naqsabandiyah, lanjut Edizon, melaksanakan ibadah puasa selama tiga puluh hari penuh.
Jika memulai ibadah puasa pada hari Jumat, maka hari raya Idulfitri akan tiba pada hari Minggu.
“Kami tidak pernah melakukan ibadah puasa kurang dari tiga puluh hari,” katanya.
Tak hanya Naqsabandiyah, Tarekat Syattariyah pengikut Habib Muda Seunagan di Kabupaten Nagan Raya, Aceh nahka sudah mulai puasa pada Kamis (31/3/2022).
Cucu Kandung Habib Muda Seunagan, Abu Said Kamaruddin itu mengatakan, awal Ramadan ditetapkan bersama para ulama pengikut Tarekat Syattariyah menyepakati 1 Ramadan 1443 Hijriah jatuh pada hari Kamis.
“Kamis mulai puasa. Ini hasil kesepakatan para ulama dan teungku-teungku dayah,” kata Abu Said.
Tarekat Syattariyah memiliki hisab sendiri dalam menentukan awal Ramadan. Misalnya ada hisab bilangan lima serta lima tahun bilangan naik.
“Kalau misalnya jatuh Rabu dinaikkan ke Kamis, dalam lima tahun. Kemudian ada lima tahun bilangan turun. Kalau jatuh pada hari Senin, Selasa, Kamis, itu tetap. Tidak dipindahkan lagi,” ujarnya.
Di Gowa, Sulawesi Selatan, Jemaah An Nadzir punya metode tersendiri dalam menentukan 1 Ramadan.
Jemaah yang terletak di Kampung Batua, Kelurahan Romang Lompoa, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa itu menentukan awal bulan Ramadan dengan melihat fenomena alam.
Selain itu, menggunakan metode perhitungan bulan purnama.
“Kami tidak punya teropong. Kami berdasarkan ilmu yang diajarkan guru,” ujar Pimpinan An Nadzir, Ustadz Samaruddin Pademmui, Selasa (28/3/2022).
Samaruddin mengatakan, An Nadzir memperhatikan fenomena alam pada saat pergantian bulan.
Hal tersebut ditandai oleh terjadinya gerimis, angin kencang, disertai petir dan air laut pasang.
“Itu semua yang dipakai oleh An Nadzir untuk memantau pergantian bulan,” katanya.
Pergantian bulan, kata Samaruddin, dihitung dari pantauan bulan purnama mulai dari tanggal 14, 15, 16,dan 17 bulan sya’ban.
Lalu, pada tanggal 29 Masehi diperkirakan akan terjadi pergantian bulan.
Menurut pengamatan mereka, tanggal Hijriah tidak pernah sampai pada 30 hari.
Sesuai penanggalan Masehi, hanya ada 29 hari sekian. Pada saat pergantian bulan itulah, 1 Ramadan jatuh.
Ia menambahkan ada tujuh orang dalam tim pemantau An Nadzir yang terus memantau bulan.
Dari hasil pemantauan sementara, akan ada pergantian bulan pada hari Jumat, 1 April siang.
Dengan demikian, puasa penuh jatuh pada Sabtu 2 April 2022. Namun jemaah An Nadzir selalu berpuasa sehari sebelumnya untuk menyambut Ramadan.
“Hari Jumat itu kami puasa dengan niat menyambut 1 Ramadan yang jatuh pada 2 April, sabtu,” ujarnya.
Walaupun tak menggunakan teknologi canggih memantau bulan, metode perhitungan jemaah An Nadzir diklaim tak pernah salah.
Mereka juga selalu membandingkan hasil pantauan dengan aplikasi astronomi di internet.
“Dan alhamdulillah selalu cocok. Pantauan kami tidak pernah berbeda dengan aplikasi di HP, kami kan juga punya tim yang selalu berkoordinasi dengan orang NASA,” katanya. (*/Siberindo.co)
– dari berbagai sumber








