LEBAK – Ada yang berbeda dengan nama-nama jalan di seputar Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Sejak beberapa pekan lalu, nama-nama jalan itu ditulis pula dengan huruf Arab, di samping dengan huruf Latin.
Masyarakat muslim, terutama ulama dan santr menyambut baik penambahan nama-nama jalan dengan huruf Arab itu.
“Sekaligus, mengajari anak-anak kita dekat dengan huruf Arab dan bahasa Arab,” kata Ketua MUI Kabupaten Lebak KH Pupu Mahpudin, MPd, Jumat (30/10/2020).
“Soal bahasa Arab, itu bahasa kitab suci Al-Qur’an, bahasa kita dalam beribadah sholat dan ibadah-ibadah lainnya,” tambah Pupu, yang juga ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lebak.
Kabupaten Lebak yang mayoritas penduduknya beragama Islam memiliki lambang daerah yang antara lain berunsurkan kubah masjid dengan motto juang iman, aman, uman, dan amin. Unsur kubah masjid itu pun sekaligus menjadi simbol masyarakat Lebak yang mayoritas muslim.
“Ketika nama-nama jalan ditambah dengan bahasa Arab, itu sangat relevan,” kata Mulyani pula.
Gagasan penambahan nama jalan dengan huruf Arab itu sebenarnya sudah lama digulirkan Bupati Lebak H Iti Octavia Jayabaya, MM di hadapan para tokoh ulama. Para ulama pun menyambut baik.
“Tenang, banyak santri saya yang bisa menulis huruf Arab yang indah,” kata seorang ulama.
Bupati Lebak yang berjilbab dan pernah nyantri itu pun ingin mewarnai jantung kota dengan variasi nama Latin dan Arab. Bupati Lebak kini memang sedang gencar meningkatkan keindahan, kebersihan, dan ketertiban di jantung kota yang merupakan etalase Kabupaten Lebak.
Unsur keindahan itu, yang cenderung religius, ada pada pemakaian huruf Arab dan huruf Latin untuk nama jalan.
Penulisan nama jalan dengan kedua jenis huruf itu sama sekali bukan Arabisasi, melainkan pendidikan dan penegasan identitas masyarakat Kabupaten Lebak yang mayoritas beragama Islam. Ini terinspirasikan pula oleh lambang Kabupaten Lebak yang didominasi kubah masjid.(zher/dean)











Komentar