oleh

Ungkap Potensi Terpendam, BPCB Sumbar Ekskavasi Situs Tapak Istana di Penyengat

Tim BPCB Sumbar saat di lokasi ekskavasi Pulau Penyengat.

Meski Pulau Penyengat merupakan bagian Warisan Nasional bahkan diusulkan menjadi Warisan Budaya Dunia, namun Potensi Cagar Budaya Penyengat masih banyak yang belum terekspos ke permukaan, sehingga masyarakat belum banyak tahu keberadaan tapak-tapak sejarah yang selain yang sudah dikenal.

Pulau penyengat merupakan warisan budaya melayu dengan sejuta pesona. Pulau Penyengat menyimpan tapak tapak sejarah terkait eksistensi dan kejayaan Kerajaan Melayu Riau pada masanya. Dari serpihan sejarah yang tertinggal, kemegahan Kerajaan Melayu, Lingga masih bisa dinikmati.

Baca Juga:   Hasil Kajian Benteng Victoria Segera Diserahkan Kepada Pemkot Ambon

Terdapat 46 tinggalan Cagar Budaya yang ada di pulau penyengat baik berupa bangunan yang masih utuh ataupun sisa pondasi, tapak, mesjid, perigi/sumur, benteng bukit kursi, makam dan lain-lain. Kesemuanya merupakan bukti otentik dengan nilai-nilai luar biasa dan sangat berharga yang menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwasanya di pulau kecil ini roda pemerintahan kerajaan melayu dijalankan.

Baca Juga:   Gugatan Lapangan Merdeka Sebagai Cagar Budaya Dikabulkan, PN Medan Dipenuhi Karangan Bunga

Menurut Zulkifli Harto dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau, kegiatan ekskavasi di situs tapak Istana Kedaton, Penyengat oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat ini bertujuan untuk mengungkap potensi Cagar Budaya yang sebagian terpendam dalam tanah.

“Diupayakan kegiatan ini juga bisa merekonstruksi bangunan fisik pada saat difungsikan,” sebutnya.

Baca Juga:   Pemko Medan Dinilai tak Punya Komitmen Rawat Cagar Budaya

Menurutnya, situs ini punya potensi yang luar biasa sebagai media akademik untuk fungsi penelitian, pembelajaran dan pengembangan wisata budaya secara keseluruhan.

“Ekskavasi ini merupakan pondasi awal untuk kemudian menghidupkan kembali situs yang semula mati tak berguna, menjadi hidup, menyala dan bergema,” kata Zulkifli Harto.

Tentu, jika semua itu seluruh komponen mau berpihak untuk berkomitmen melestarikan tinggalan-tinggalan sejarahnya yang masih tersisa. (*/arl-Elzanews)

Berita Lainnya