oleh

Trauma Erupsi 1994, Warga Turgo Pilih Ngungsi

SLEMAN – Pasca guguran awan panas yang terjadi Rabu (27/1/2021), ratusan warga Turgo, Purwobinangun, Pakem memilih tinggal di barak pengungsian Watuadeg.

Kebanyakan pengungsi trauma dengan semburan awan panas Merapi sehingga memilih tetap berada di barak pengungsian sementara waktu.

Salah satunya Marsiyam (44) warga RT 4 Turgo yang mengaku masih trauma olehnErupsi Merapi 1994. Erupsi Merapi kala itu merenggut nyawa kerabatnya cukup banyak.

“Rumah saya 25 meter dari tebing sungai Boyong. Waktu awan panas Rabu kemarin, saya pas di rumah, orang-orang lari keluar dan berteriak, kentongan juga dibunyikan. Semua langsung berkumpul ke SD Tritis,” ungkap Marsiyam di barak Watuadeg, Kamis (28/1/2021).

Marsiyam bersama anak dan ibunya yang sudah jompo memilih berada di pengungsian. Menurutnya, di pengungsian tetap nyaman karena sudah diberi sekat-sekat.

“Kalau di rumah cuma makan apa adanya. Di sini malah diberi fasilitas luar biasa. Ini lebih dari cukup,” tutur Marsiyam.

Marsiyam berharap, kondisi Merapi lekas normal. Karena selama status Merapi naik menjadi Siaga Level III, aktivitas penambangan yang menjadi sumber pendapatan warga juga ditutup.

“Kami nunggu instruksi pemerintah yang lebih tahu. Kalau masih diminta tinggal di barak kami mengikuti,” ujar Marsiyam.

Kepala Pelaksana Harian Unit Pelaksana Purwobinangun Nurhadi menyatakan, jumlah pengungsi di barak Watuadeg, 65 KK atau 153 jiwa.

Perinciannya, laki-laki 76 orang, perempuan 77 orang, balita 36, ibu hamil 1 orang, lansia perempuan 11 orang dan lansia laki-laki 15 orang.

Baca Juga:   Potensi Erupsi Merapi di Tengah Pandemi, Apa yang dilakukan Pemda Magelang?

“Jumlah total warga di RT 1 hingga 4 sekitar 400an. Tidak semua warga mengungsi, warga RT 1 dusun Tritis masih banyak yang di atas. Diprioritaskan warga di RT 2, 3 dan 4 karena dekat bibir Sungai Boyong,” kata Nurhadi, Kamis (28/1/2021).

Nurhadi menyatakan, warga yang berdekatan dengan bibir sungai diprioritaskan mengungsi karena Sungai Boyong menjadi jalur lahar atau guguran awan panas.

Sebagian warga, lanjut Nurhadi, masih banyak yang naik untuk mencari rumput atau membawa tambahan baju ganti.

Namun sesuai kesepakatan, warga yang pulang ke rumah dijemput pukul 10.00.

Setelah barak Watuadeg diaktifkan, relawan yang bertugas juga langsung diperiksa swab antigen, untuk memastikan tidak terpapar Covid-19.

Selain itu, relawan yang bertugas juga dibatasi dari kelurahan saja. “Untuk njagani semua. Turgo juga masih berstatus zona hijau,” ujar Nurhadi.

Untuk menyaring warga yang naik, Nurhadi mengungkapkan, portal untuk masuk ke Turgo selalu dijaga petugas.

“Masih ada warga yang naik, khususnya bapak-bapak,” imbuh Nurhadi.

Menurut Nurhadi, ternak belum dievakuasi, karena masih dikoordinasikan dengan Pemkab Sleman. Namun baraknya akan disiapkan di tempat relokasi.

“Kandang relokasi bisa menampung 100 ternak. Jumlah ternak di Turgo 100 sapi dan 400 ekor kambing 400. Relokasi rencana berada Dusun Sudimoro,” tutup Nurhadi. (Tiw/harianmerapi.com)

Baca Juga:   Awan Panas Meluncur Sejauh 1500 Meter, Sempat Terjadi Huian Abu

SLEMAN – Pasca guguran awan panas yang terjadi Rabu (27/1), ratusan warga Turgo, Purwobinangun, Pakem memilih tinggal di barak pengungsian Watuadeg.

Kebanyakan pengungsi trauma dengan semburan awan panas Merapi sehingga memilih tetap berada di barak pengungsian sementara waktu.

Salah satunya Marsiyam (44) warga RT 4 Turgo yang mengaku masih trauma olehnErupsi Merapi 1994. Erupsi Merapi kala itu merenggut nyawa kerabatnya cukup banyak.

“Rumah saya 25 meter dari tebing sungai Boyong. Waktu awan panas Rabu kemarin, saya pas di rumah, orang-orang lari keluar dan berteriak, kentongan juga dibunyikan. Semua langsung berkumpul ke SD Tritis,” ungkap Marsiyam di barak Watuadeg, Kamis (28/1/2021).

Marsiyam bersama anak dan ibunya yang sudah jompo memilih berada di pengungsian. Menurutnya, di pengungsian tetap nyaman karena sudah diberi sekat-sekat.

“Kalau di rumah cuma makan apa adanya. Di sini malah diberi fasilitas luar biasa. Ini lebih dari cukup,” tutur Marsiyam.

Marsiyam berharap, kondisi Merapi lekas normal. Karena selama status Merapi naik menjadi Siaga Level III, aktivitas penambangan yang menjadi sumber pendapatan warga juga ditutup.

“Kami nunggu instruksi pemerintah yang lebih tahu. Kalau masih diminta tinggal di barak kami mengikuti,” ujar Marsiyam.

Kepala Pelaksana Harian Unit Pelaksana Purwobinangun Nurhadi menyatakan, jumlah pengungsi di barak Watuadeg, 65 KK atau 153 jiwa.

Perinciannya, laki-laki 76 orang, perempuan 77 orang, balita 36, ibu hamil 1 orang, lansia perempuan 11 orang dan lansia laki-laki 15 orang.

Baca Juga:   Terjadi Lagi Letusan Susulan, Korban Tewas Bertambah, Lebih 2000 Mengungsi

“Jumlah total warga di RT 1 hingga 4 sekitar 400an. Tidak semua warga mengungsi, warga RT 1 dusun Tritis masih banyak yang di atas. Diprioritaskan warga di RT 2, 3 dan 4 karena dekat bibir Sungai Boyong,” kata Nurhadi, Kamis (28/1/2021).

Nurhadi menyatakan, warga yang berdekatan dengan bibir sungai diprioritaskan mengungsi karena Sungai Boyong menjadi jalur lahar atau guguran awan panas.

Sebagian warga, lanjut Nurhadi, masih banyak yang naik untuk mencari rumput atau membawa tambahan baju ganti.

Namun sesuai kesepakatan, warga yang pulang ke rumah dijemput pukul 10.00.

Setelah barak Watuadeg diaktifkan, relawan yang bertugas juga langsung diperiksa swab antigen, untuk memastikan tidak terpapar Covid-19.

Selain itu, relawan yang bertugas juga dibatasi dari kelurahan saja. “Untuk njagani semua. Turgo juga masih berstatus zona hijau,” ujar Nurhadi.

Untuk menyaring warga yang naik, Nurhadi mengungkapkan, portal untuk masuk ke Turgo selalu dijaga petugas.

“Masih ada warga yang naik, khususnya bapak-bapak,” imbuh Nurhadi.

Menurut Nurhadi, ternak belum dievakuasi, karena masih dikoordinasikan dengan Pemkab Sleman. Namun baraknya akan disiapkan di tempat relokasi.

“Kandang relokasi bisa menampung 100 ternak. Jumlah ternak di Turgo 100 sapi dan 400 ekor kambing 400. Relokasi rencana berada Dusun Sudimoro,” tutup Nurhadi. (Tiw/harianmerapi.com)

Komentar

Berita Lainnya