oleh

Lava Pijar Bakar Hutan di Lereng, Pemkab Minta Dibantu Bom Air

KUPANG – Guguran lava pijar Gunung Ile Lewotolok, di Kabupatan Lembata, Nusa Tenggara Timur, Rabu (28/2021) menyebabkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitarnya.

Pemerintah Kabupaten Lembata sudah meminta bantuan helikopter Water Bombing (pengeboman air), untuk membantu pemadaman.

Demikian siaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui akun Twitter @BNPB, Kamis (29/7/2021).

Gunung Ile Lewotolok kembali menunjukkan aktivitasnya, Rabu (28/7/2021).

Terjadi dua kali erupsi. Pertama, pada pukul 00.24 Wita, berikutnya pada pukul 07.22 Wita.

Baca Juga:   Di Era Pandemi Mereka Bertarung dengan Cuaca Ekstrem untuk Mendapat Sinyal

Media Informasi Bencana, melalui akun Twitter @infobencan melaporkan, getaran letusan tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum 45 mm dan durasi 49 detik.

Kolom Erupsi berwarna kelabu tebal, tinggi 1000 m di atas puncak condong ke arah barat, disertai dentuman kuat.

Letusan disertai gemuruh kuat juga terjadi lima hari sebelumnya, Jumat (23/7/2021) pukul 23:05 Wita.

Getarannya tercatat di seismograf dengan amplitudo 7 mm, durasi 29 detik, tulis @infobencan.

Dua pekan sebelumnya, Rabu (14/7/2021) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui akun Twitter @PVMBG, menyiarkan, terjadi lagi Erupsi pada pukul 18:08 WITA,

Baca Juga:   Warga Panik, Kebakaran di Pulo Gadung

Letusan tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum 12 mm dan durasi 32 detik.

Kolom Erupsi berwarna kelabu hingga hitam tebal, tinggi 800 m di atas puncak condong ke arah barat.

Sebelumnya, antaranews.com menyiarkan, Pos Pemantau Gunung Api Ili Lewotolok di Lembata, melaporkan, Selasa (13/7/2021) pada pukul 10.06 WITA kawah Ile Lewotolok mengeluarkan asap putih.

Baca Juga:   Lebih 8.400 Warga Lima Kabupaten di NTT Terpaksa Diungsikan

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok Stanislaus Ara Kian, Selasa, mengatakan ketinggian material pada Erupsi siang ini saat itu fluktuatif.

“Betul sekarang cukup fluktuatif tinggi kolom abunya. Beberapa waktu lalu sempat mencapai 700 meter, kemudian hari ini 800 meter terkadang juga naik sampai 1.000 meter,” katanya.

Ia menjelaskan, jika diukur dari permukaan laut, maka tinggi kolom abunya mencapai kurang lebih 2.223 meter. (*)

Komentar

Berita Lainnya