oleh

Maarif dan Leimena Institute: Madrasah Berperan Membangun Harmoni Agama

JAKARTA – Maarif Institute dan Institut Leimena menggelar webinar Internasional bertajuk “Kontribusi Madrasah dalam Kerukunan Umat Beragama,” Sabtu (28/8/2021).

Kegiatan ini untuk merespon berbagai masalah terkait dengan masih maraknya intoleransi, persekusi, dan narasi kebencian berbasiskan agama belakangan marak terjadi di Indonesia.

Berbagai bentuk tindak diskriminasi tersebut sering menimpa kelompok yang dianggap berbeda.

Situasi ini sangat merisaukan karena berpotensi mencabik harmoni kehidupan masyarakat yang majemuk.

Jika persoalan pelik ini tidak mendapatkan perhatian secara serius, sangat mungkin api kekerasan berskala nasional bisa terjadi di kemudian hari.

Maarif Institute dan Institut Leimena berkolaborasi bersama sejumlah pihak merespon kondisi ini melalui webinar tersebut dalam upaya menguatkan literasi keagamaan lintas budaya masyarakat.

Pihak yang digandeng dalam kegiatan ini adalah Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah, Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, RBC Institute A Malik Fadjar, dan Templeton Religion Trust.

Baca Juga:   Indonesia Tempati Urutan ke-55 Olimpiade Tokyo 2020

Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan internasional, di antaranya Dr Amirsyah Tambunan, MA (Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia) dan Dr Chris Seiple (Senior Fellow, University of Washington).

Kemudian, Prof Dr Amin Abdullah (Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga); Aly Aulia, Lc. M.Hum (Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta); dan Samah Norquist (Mantan Penasehat Utama Kebebasan Beragama Internasional, USAID).

Menurut Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho, webinar literasi keagamaan lintas budaya ini bertujan memberikan inspirasi kepada masyarakat.

Terutama para kepala madrasah/pesantren dan para gurunya mengenai peran penting madrasah dalam memperkuat koeksistensi damai lintas agama.

Salah satu hal mendasar dalam literasi keagamaan lintas budaya adalah bagaimana memandang dan memperlakukan mereka yang berbeda agama secara baik.

Baca Juga:   Burcek, Paduan Nilai Islam dan Hindu dalam Semangat Toleransi

“Sekalipun kita hidup di masyarakat multireligius, kita dapat bekerjasama untuk kemanusiaan tanpa harus merasa agama kita terancam,” kata Matius Ho.

Di webinar internasional ini, lanjut Matius Ho, dibahas literasi keagamaan lintas budaya dan berbagai peran madrasah dalam membangun harmoni agama.

Juga menelusurinya dari perspektif Islam dengan tambahan beberapa pengalaman internasional.

Direktur Maarif Institute Abd Rohim Ghazali mengatakan,  dipahami bahwa madrasah atau pesantren menyimpan nilai dan ajaran keteladanan dalam merekatkan hubungan masyarakat beragama.

Nilai toleransi, moderasi, dan inklusifitas dalam memahami ajaran agama, misalnya, senantiasa menjadi modal sosial-spiritual para kyai, ustadz, guru dan santri dalam merajut kerukunan hidup beragama di Indonesia.

”Itu sudah dilakukan sejak lama, sehingga mulai sekarang kita perlu merumuskan pengembangan madrasah sebagai pusat pendidikan Islam untuk turut memajukan pola pikir, sikap, dan perilaku untuk harmoni antar umat beragama, khususnya di Indonesia,” kata Abd Rohim Ghazali.

Baca Juga:   Indonesia Tekankan Keamanan Siber dan Kedaulatan Data

Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah R Alpha Amirrachman menjelaskan, literasi keagamaan lintas budaya ini menguatkan kompetensi mendasar guru-guru madrasah.

Terutama mengenai kehidupan bersama dan kerjasama yang damai dalam masyarakat plural yang semakin tergerus oleh berkembangnya paham intoleran dan ekstremisme.

Menurut Alpha, literasi keagamaan lintas budaya adalah sebuah pendekatan baru yang kreatif dalam memetakan kompetensi mendasar ini.

“Kita dapat mengembangkannya dalam diri kita, terutama bagi para guru di madrasah dan asatid di pesantren untuk terlibat dalam kerjasama multi-agama tanpa kehilangan identitas agama kita sendiri,” kata Alpha. (*)

Komentar

Berita Lainnya