oleh

Polisi di Mamuju Dirikan Sekolah Rakyat untuk Anak Terdampak Pandemi, Begini Kisahnya

MAMUJU– Pandemi Covid-19 menimbulkan dampak besar pada semua sektor kehidupan, tidak terkecuali pada dunia pendidikan.

Banyak anak usia sekolah kesulitan mendapatkan pendidikan layak, karena ketiadaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran di masa pandemi.

Kondisi tersebut memunculkan keprihatinan dari banyak kalangan, salah satunya dari Bripka Lexi MPSH, Bhabinkamtibmas Polsek Urban Mamuju, Polresta Mamuju, Polda Sulawesi Barat.

Bersama sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Kurungan Bassi (Kompak), Lexi mendirikan sekolah rakyat untuk memberikan pelajaran tambahan bagi anak terdampak pandemi di daerah ini.

Sekolah rakyat yang telah difungsikan sejak dua bulan terakhir itu, berada di Lingkungan Kurungan Bassi, Kelurahan Karema, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju.

“Berjalannya kurang lebih sejak dua bulan terakhir. Berawal ketika saya melihat sekelompok pemuda di sana memberikan pelajaran tambahan untuk anak-anak di teras rumah,” katanya.

Baca Juga:   Update Covid-19: Kasus Positif Covid-19 Bertambah 3.307 

Kemudian ia berbincang dengan pemuda di situ dan warga setempat. Akhirnya disepakati membangun suatu tempat khusus.

“Meski sederhana, bisa digunakan sebagai tempat melangsungkan proses belajar mengajar,“ ujar Lexi, Senin (25/10/2021).

Bangunan sekolah rakyat yang didirikan Lexi bersama Kompak, berukuran 3×5 meter, beratapkan daun rumbia.

Hampir semua sisi bangunan diberi dinding seadanya, dari kayu dan bambu.

“Kami bersama Komunitas Pemuda Kompak, sepakat membangun ‘sekolah rakyat’, asalkan bisa digunakan untuk belajar, anak-anak yang selama ini tidak sekolah karena pandemi,“ tutur ayah dua anak ini.

Menurut Lexi, selain ikut serta menginisiasi proses pembangunan sekolah rakyat ini, dia pun terlibat aktif memberikan pelajaran tambahan untuk anak-anak di daerah tersebut.

Baca Juga:   Sekarang Nikita Mirzani Mulai Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Tidak mengherankan, kehadiran Lexi, baik saat berseragam dinas kepolisian, maupun saat mengenakan pakaian sipil selalu dinanti para murid.

“Jadi, sehabis lepas tugas, sore hari, kami menyempatkan waktu datang ke situ. Mencoba mengajar anak-anak,“ kata pria 32 tahun ini.

“Tenaga pengajar di sana juga berasal dari komunitas pemuda, yang dianggap bisa memberikan pelajaran sebagaimana mestinya,“ ujarnya.

Diakui Lexi, sejak didirikan, keberadan sekolah rakyat ini mendapat apresiasi positif dari banyak kalangan maupun warga setempat.

Bantuan buku-buku pelajaran juga mulai berdatangan dari sejumlah relawan.

“Jadi, selama ini kami sudah banyak menerima bantuan dari relawan, berupa buku, alat tulis, buku bacaan, buku gambar, dan lain-lain,“ katanya.

Tercatat, hingga saat ini sudah ada 15 belas anak, yang aktif mengikuti pelajaran tambahan di sekolah rakyat ini.

Baca Juga:   Agam Catat Rekor Baru: Tambah 121 Kasus Positif, Tiga Meninggal

Satu di antaranya yang telah berusia 8 tahun, diketahui belum pernah bersekolah.

Kurang lebih 15 orang yang aktif, dari beberapa tingkatan usia antara 5 sampai 10 tahun.

“Ada satu di antaranya yang usianya sudah delapan tahun, tapi selama ini tidak pernah masuk sekolah, karena menurut orang tua, alasannya kurang lancar berbicara, akhirnya tidak mau bersekolah,“ kata Lexi.

Kendati jauh dari kesan formal, keberadaan sekolah rakyat ini diharapkan bisa menjadi pelecut semangat bagi anak-anak di daerah tersebut.

Harapannya, agar mereka tetap giat dan rajin belajar menuntut ilmu, kendati dalam kondisi serba terbatas, akibat badai pandemi Covid-19. (thaya/red)

Editor: Sulaeman Rahman

Komentar

Berita Lainnya