oleh

Warga Kepri Tewas Ditembak Aparat Malaysia

BINTAN – Seorang warga Tanjunguban Utara, Kecamatan Bintan Utara, Kepri tewas Firman Bahtiar Amin (37) ditembak ditembak petugas Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM), Senin (23/8) pagi sekitar pukul 01.30 pagi waktu Malaysia. Korban ditembak petugas aparat Malaysia saat akan mengambil pesanan burung, bersama dua orang rekannya, Cecep dan Madi.

Saat kejadian, korban yang merupakan tekong boat dan dua rekannya (ABK) baru tiba di Perairan Tanjung Kelesa, Pantai Timur Johor, Malaysia. Dikutip dari laman facebook APMM, korban bersama dua rekannya akan mengambil 90 bakul berisi burung murai batu dan murai kampung. Namun terjadi perlawanan dan korban ditembak tembak.

Seperti dikutip luarbiasa.id grub siberindo, Syukuri (60) ayah korban saat ditemui di kediamannya, membenarkan anaknya menjadi korban penembakan aparat keamanan Malaysia di perairan Malaysia.

“Almarhum anak kedua saya dari lima bersaudara. Kini, kami masih menunggu kepulangan almarhum dari Malaysia, yang saat ini sedang diurus pihak keluarga di sana,” katanya.

Kata Syukuri, anaknya itu sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. Korban terakhir meninggalkan rumahnya di Kampung Bugis, Bintan pada Minggu (23/8) malam sekitar pukul 22.00 WIB bersama dua orang temannya. Korban juga mengatakan kepergiannya itu juga untuk bisnis burung murai.

“Dia itu pergi dengan dua kawan dia. Namanya biasa kami panggil Cecep dan Made. Anak saya tekong boat, jadi dia bawa kawan untuk bantu-bantu dialah sebagai ABK,” jelasnya.

Ia pun menyampaikan, peristiwa ini sudah takdir dan berharap anaknya bisa pulang segera ke Tanjunguban, untuk dimakamkan di kampungnya.

“Ya, kami juga cari tahu mengapa almarhum sampai ditembak di sana. Baru kemarin pagi, kami dapat info dan kontak keluarga di sana, untuk bantu kepulangannya. Saat ini, kami menunggu proses dari kedutaan besar, agar anak saya itu dapat dipulangkan,” ucapnya.

Rotal, seorang rekan korban yang berada di kediaman ayah korban menceritakan, Minggu (23/8) sore lalu, berjumpa dengan korban dan minum air kelapa bersama.

“Tak menyangka juga. Sore sebelum beliau berangkat, kami masih santai-santai ngobrol sambil minum air kelapa. Tapi kini sudah tidak ada lagi dia,” ungkapnya.

Rotal juga menambahkan, dari informasi pihak Malaysia, korban yang meninggal dunia akibat ditembak pihak otoritas Malaysia. Sementara dua orang temannya masih hidup dan ditahan di Malaysia.

“Kami masih menunggu proses kepulangan kawan baik saya ini,” tambah pria bertubuh kekar itu.

Hingga Rabu (26/8/2020) korban masih dalam proses pemulangan dan belum tiba di Tanjunguban. Korban belum bisa dipulangkan, karena pihak APMM masih melakukan proses hukum, terkait kasus penyelundupan burung murai batu dan murai kampung, dari Johor ke Indonesia.

Kapolres Bintan AKBP Bambang Sugihartono, mengatakan ada tiga WNI yang diamankan di Malaysia, karena melakukan penyeludupan burung murai. Satu di antara meninggal dunia karena ditembak oleh APMM. Sedangkan dua orang lagi masih ditahan.

“Yang meninggal dunia itu Firman Bahtiar Amin. Lalu yang ditahan Cecep dan Made. Kesemuanya warga Bintan,” ujar Bambang di Bintan Buyu, Rabu (26/8).

Dari laporan yang diterima, Firman (almarhum) merupakan warga Kampung Bugis, Kelurahan Tanjunguban Utara, Kecamatan Bintan Utara (Binut). Sedangkan dua orang lagi yaitu Cecep dan Made berdomisili di Kecamatan Teluk Sebong, Bintan.

“Cecep dan Made tinggal di Bintan. Namun salah satu diantara mereka masih ber KTP Batam,” katanya.

Untuk kasus ini, kata Bambang, sebenarnya telah ditangani oleh Polda Kepri karena menyangkut masalah hukum lintas negara. Sehingga pihak kepolisian mengirimkan perwakilan untuk bertemu dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia, yang berasal di Malaysia, membahas pemulangan jenazah Firman.

“Polisi sudah membantu untuk upaya proses pemulangan jenazah Firman. Semoga saja bisa segera terlaksanakan,” ucap Kapolres didampingi Kasat Reskrim AKP Agus Hasanuddin. (aan/arl)

Komentar

Berita Lainnya