oleh

Haedar Nashir: Kaum Konspirasi dan Anti Vaksin itu Merusak

YOGYAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir gerah oleh perilaku sejumlah tokoh publik yang terus mempromosikan keyakinan spekulatifnya bahwa pandemi Covid-19 adalah konspirasi dan kemudian menolak vaksin.

Padahal fakta jelas menunjukkan sudah 3,8 juta korban meninggal dunia karena Covid-19.

Bahkan, katanya, ada yang ngutip-ngutip ilmu, agama, menggunakan ayat-ayat yang sejatinya juga tidak pas.

“Ada yang bilang ‘kenapa sih takut Covid, takut itu kepada Allah, inna shalati wa nusuki wa maa yahya lillahi rabbil alamin,’ menggunakan ayat tidak pas itu, tidak di situ tempatnya,” kata Haedar dalam siaran PP Muhammadiyah, Kamis (24/6/2021).

Baca Juga:   Ketua DPR: Puskesmas Ujung Tombak Vaksinasi Covid-19

Perilaku mereka, menurut Haedar, tidak bertanggung jawab. Daripada terus mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan fasad (destruktif),

Kritik yang sama juga disampaikan Haedar kepada para pihak yang terus mempromosikan anti vaksin.

Haedar menyayangkan sikap mereka yang alih-alih berdialog dengan para epidemiolog, justru malah menuduh ribuan ahli vaksin di dunia dan tenaga kesehatan sedang bersekongkol melakukan kejahatan.

Baca Juga:   Kepala Dinas Kesehatan Tolak Vaksin AstraZeneca

“Masa ada ratusan bahkan ribuan yang ahli vaksin itu bersekutu untuk kejahatan, itu kan ndak mungkin. Di mana sih rasa tanggung jawab?” ujarnya.

Kalau pandangan anti Covid dan anti vaksin terus dikembangkan, masyarakat lengah, kemudian mereka yang kerja di rumah sakit tambah berat bebanya.

“Dan itu kan tidak mustahil menciptakan disharmoni di kalangan masyarakat,” ujar Haedar.

Baca Juga:   Suka Duka Mengawal Vaksinasi di Pelosok, Terseret Luapan Air Sungai

Para dai, tokoh, dan pimpinan di lingkungan Persyarikatan pun dipesankan oleh Haedar untuk terus bersikap sesuai sikap Persyarikatan dalam menghadapi pandemi ini.

“Para mubaligh Muhammadiyah dan pimpinan berusaha harus menjadi pencerah dan pencerdas. Jangan ikut-ikutan, menjadi ikut aktivistik stigmatisasi dan covidisasi karena nanti malah tak bertanggungjawab,” tegas Haedar. (*)

Komentar

Berita Lainnya