SURABAYA–Terpilihnya duet KH. Miftachul Akhyar – KH Yahya Cholil Staquf sebagai Rais Amm dan Ketua Umum (Ketum) PBNU masa khidmat 2021-2026, mendapat sambutan positif para politisi dan pengamat. Bahkan, harapan PBNU lebih mendunia dan memberikan peran besar di era global bisa terwujud.
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur M Sarmuji menyambut hangat dan takdim atas hasil Muktamar ke 34 tahun 2021 di Lampung, yang menetapkan Kiai Miftah – sebutan KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya – sapaan KH. Yahya Cholil Staquf, menahkodai jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas terbesar di dunia.
“Pelaksanaan Muktamar yang lancar, sukses di tengah pandemi semakin menunjukkan kedewasaan NU sebagai garda bangsa dan memberikan kontribusi lebih mengglobal dalam peran kedamaian, kemasyarakatan dan Islam sebagai gerakan rahmatan lil ‘alamiin,” ungkap Tarmuji, saat ditemui wartatransparansi.com, goup siberindo.co, Sabtu (25/12/2021).
Regerasi dari Prof Dr KH Said Aqil Siraj, MA kepada Gus Yahya, lanjut Sarmuji, bisa memberikan warna lebih mendunia. Apalagi, sikap tawaddu’, etika, dan akhlak yang dicontohkan para pemimpin NU membuat masyarakat internasional semakin kagum pada ormas yang didirikan oleh Hadratus Syech Hasyim Asy’ari pada 1926.
“Saya berharap duet kepemimpinan Kiai Mifta dan Gus Yahya akan menghadirkan suasana yang teduh baik di internal umat Islam maupun elemen bangsa yang lain, serta dinamika global. Saya yakin, dengan kiprah Gus Yahya, mantan Jubir Gur Dur,” ulas Sarmuji.
Teduhnya suasana sudah terlihat sejak proses pencalonan hingga terpilihnya mereka berdua dalam arena muktamar tersebut. Pemungutan suara dari para muktamirin berjalan hingga Jumat pagi hari. Proses peralihan pucuk pimpinan tersebut berjalan sangat dinamis tetapi mulus dalam penyelesaiannya.
“KH Said Aqil Siradj memang telah purna menjadi nakhoda PBNU, prestasi-prestasi beliau cukup mewarnai kehidupan berbangsa dan juga peradaban dunia Islam. Hal ini menjadi tantangan tersendiri kepada Gus Yahya dalam melanjutkan era yang sangat baik ini,” ungkap Sarmuji.
Sebelumnya, tokoh muda NU, Nusron Wahid, malah menilai terpilihnya Gus Yahya memberikan reward positif bagi figur Airlangga Hartarto, Ketum Partai Golkar. Keakraban kedua tokoh bangsa tersebut, bisa mengangkat elektabilitas Airlangga yang mendapat dukungan penuh Golkar sebagai Capres 2024 mendatang.
“Beliau berdua sama-sama aktivis di kampus UGM tahun 1980-an. Tentu punya komitmen bagaimana membangun bangsa ke depan. Apalagi, Gus Yahya sudah menyampaikan statement. Tidak aka nada pengurus PBNU yang mencalonkan Capres. Tentu menguntungkan pak Airlangga juga dari keluarga NU,” tuturnya. (mat/ jtm-wartatransparansi)










