LINGGA–Aktivitas penambangan bauksit ilegal, yang selama ini diduga dilakukan oleh PT YBP, dihentikan oleh Tim Direktorat Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu (22/9/2021).
Petugas mengamankan dua unit alat berat, delapan unit dump truck. Selain itu stockpile yang siap untuk diangkut dan dijual disegel oleh Ti Gakum KLHK. “Areal dan alat pengolahan bijih bauksit disegel. Selain itu petugas memasang papan larangan di areal tambang PT YBP di Kawasan Hutan Produksi Terbatas Sungai Gelam, Sungai Marok Tua, Tanjung Sembilang, Desa Tinjul, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Rabu (22/9).
Menurut Rasio Ridho Sani, Dirjen Gakkum KLHK, dalam rilisnya, pemerintah mengedepankan restorative justice dalam penyelesaian permasalahan penggunaan kawasan secara tidak prosedural untuk perkebunan maupun pertambangan. Namun demikian, kegiatan pertambangan/perkebunan di dalam kawasan hutan yang dilakukan setelah terbitnya UUCK, merupakan tindak pidana.
“Dan akan kami lakukan penegakan hukum. Pertambangan ilegal merupakan kejahatan luar biasa yang menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi negara. Untuk itu pelaku kejahatan ini harus dihukum seberat-beratnya,” kata Rasio Ridho Sani.
Sementara itu, Sustyo Iriyono, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, mengatakan, operasi ini diawali dari hasil pendataan dan analisis spasial penggunaan kawasan hutan yang tidak prosedural, terutama di wilayah Kepulauan Riau. Dari hasil pengecekan lapangan diketahui adanya aktivitas tambang di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri LHK pasca terbitnya UUCK di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga.
“Untuk itu, kami lakukan operasi penindakan dan penegakan hukum. Kami juga ucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kab. Lingga dalam operasi ini,” kata Sustyo.
Barang bukti berupa dua unit alat berat (Excavator) dan delapan unit dump truck diamankan di Pos Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Dabo Pemkab Lingga. Selain barang bukti, tim juga mengamankan dua orang pekerja dan delapan sopir dump truck untuk dimintai keterangannya oleh PPNS LHK guna mengungkap dan menjerat penanggung jawab/pemodal/aktor intelektualnya.
Pelaku akan dijerat dengan tindak pidana bidang Kehutanan dalam perkara mengerjakan, menggunakan dan/atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah. Sebagaimana diatur dalam Pasal 78 ayat (2) Jo Pasal 50 ayat (3) huruf a Undang Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana diubah dalam Pasal 36 angka 19 Pasal 78 ayat (2) Jo Pasal 36 angka 17 Pasal 50 ayat (2) huruf a Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2021 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 angka 1 ke-1 KUHPidana, dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp7,5 miliar.
Dalam 6 tahun terakhir, KLHK sudah melakukan 1.665 operasi pemulihan dan penindakan pelanggaran kawasan hutan, illegal logging, serta perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi. KLHK juga sudah membawa kasus lingkungan hidup dan kehutanan ke pengadilan sebanyak 1.069 kasus, baik melalui perdata maupun pidana. (*/arl)











Komentar