KIEV – Tentara Rusia sudah mulai masuk Ibu Kota Ukraina, Kiev, Jumat (25/2/2022). Warga sekitar diminta melaporkan pergerakan Rusia dan melawan menggunakan molotov.
“Kami mendesak warga mengabarkan pergerakan pasukan, membuat bom molotov, dan melawan musuh,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Ukraina.
Kantor berita AFP melaporkan, pasukan Rusia mulai bergerak ke arah Kiev melalui Belarus pada Jumat pagi.
Ukraina sempat melakukan berbagai cara untuk menghalau Rusia, termasuk meledakkan jembatan menuju Kiev.
Puluhan WNI di Ukraina mengungsi ke kantor Kedutaan Besar RI di Kiev pasca serangan Rusia terhadap Ukraina.
Hingga Jumat (25/2/2022) situasi di Kiev diktakan masih tergolong sedikit “aman” tampak seperti kota mati.
Sekitar 70 dari 144 WNI di Ukraina mengungsi ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kiev pasca serangan yang dilakukan oleh Rusia Kamis pagi waktu setempat.
Ledakan dan suara sirene sebagai tanda anjuran evakuasi yang menggaung di seluruh kota telah membuat warga panik.
“Ada beberapa ledakan. Kami semua dengar, sekitar jam 5 pagi. Cuma belum bisa dipastikan, apakah itu benar-benar invasi atau provokasi, jadi memang sedikit rancu,” ujar warga Indonesia, Denny Fachry yang tinggal di Kiev, Ukraina setahun belakangan ini.
Status darurat nasional telah diberlakukan sementara ketegangan di Ukraina terus meningkat.
Pemerintah menganjurkan warga tidak keluar rumah atau bahkan mengevakuasi diri dan berlindung di tempat yang telah disediakan.
“Evakuasinya mereka itu adalah ke shelter-shelter yang udah disiapkan, dan juga ke subway ya, karena subway-nya mereka kan juga dibuat untuk shelter dari jaman Soviet,” ujar Denny seperti dikutip VOA Indonesia.
Antrean panjang memadati berbagai lokasi seperti ATM, pom bensin, dan supermarket. Para warga pun berusaha keluar dari kota Kiev dan mencari tempat yang lebih aman.
“Jadi memang secara logistik sekarang ini sedikit lumpuh ya di Kyiv. Tapi Alhamdulillah, listrik, air, internet masih nyala,” ujar Denny.
Situasi di Kiev bagaikan kota mati, ia dan keluarganya memutuskan segera keluar dari rumah dan pergi ke KBRI di Kiev.
Kini Denny dengan istri dan kedua anak mereka tengah mengungsi dan bermalam bersama WNI lainnya di KBRI di Kiev.
“Kami udah niat, kalau misalnya pun ada apa-apa harus kumpul di KBRI karena kami punya keterbatasan. Mulai bahasa, kendaraan, dan lain-lain” kata Denny.
Di Jakarta, Kedutaan Besar Ukraina mengklaim situasi di negara itu sudah mulai dapat dikendalikan.
Dalam konferensi pers virtual, Dubes Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin mengatakan, Rusia telah menyerang beberapa fasilitas militer.
Satu di antaranya yang berada di wilayah Boryspil dekat ibukota Kiev serta di 19 tempat lainnya seperti Odessa dan Mariupol.
Untuk mempertahankan diri atas serangan ini, Angkatan Bersenjata Ukraina balas menyerang untuk memukul mundur pasukan Rusia.
Menurut Vasyl Hamianin, dalam operasi pertahanan itu 5 pesawat tempur dan dua helikopter Rusia telah ditembak jatuh, dua tank dihancurkan, dan beberapa truk milik militer Rusia musnah.
Pasukan pertahanan Ukraina berusaha terus menimbulkan kekalahan bagi pihak yang menyerang, katanya.
Selain itu, Hamianin menyebut tidak ada masyarakat Ukraina yang panik. Ia menyatakan pihaknya sedang meredakan ketegangan agar tidak terpancing untuk melakukan serangan balasan.
Sebab hal ini mampu memancing Rusia untuk menggambarkan Kiev sebagai pihak yang bersalah dan tidak menginginkan perdamaian.
“Selama tiga puluh tahun terakhir Rusia terus meremehkan kedaulatan kami, juga meremehkan kemampuan kami untuk memutuskan takdir dan masa depan kami. Setiap hari kami mendengarkan kebohongan dari mereka,” ujarnya.
Ia pun mencontohkan klaim ini dengan bagaimana Presiden Rusia Vladimir Putin dan Dubes Rusia untuk RI, Lyudmila Vorobieva, menegaskan niatan Moskow yang tidak akan menyerang Ukraina. (*/Siberindo.co)
– dari berbagai sumber








