oleh

15 Tahun Menyembur, Lumpur Lapindo Ternyata Mengirim Harta Karun

JAKARTA–Sudah 15 tahun lebih lumpur lapindo dari tanah wilayah timur Jawa menyembur. Diketahui semburan lumpur itu berasal dari Sumur Banjarpanji 1, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur di lokasi pengeboran gas milik PT Lapindo Brantas, di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Tetapi lumpur lapindo akibat semburan gas di Sidoarjo, Jawa Timur itu ternyata mengandung ‘harta karun’. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eko Budi Lelono membeberkan indikasi ini.

Penelitian pun tengah dilakukan Badan Geologi terkait kandungan mineral di lumpur lapindo. Tak tanggung-tanggung, lumpur ini terindikasi mengandung logam super langka alias logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element.

Seperti diketahui, LTJ memiliki banyak manfaat dan bisa digunakan sebagai bahan baku dari berbagai peralatan yang membutuhkan teknologi modern, antara lain bahan baku baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika, hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB). Bisa juga untuk bahan baku industri pertahanan hingga kendaraan listrik.

Berdasarkan data survei Badan Geologi Kementerian ESDM tahun 2009 – 2020, tercatat saat ini logam tanah jarang terdapat di Tapanuli, Sumatera Utara sekitar 20.000 ton. Di Bangka Belitung ada mineral monasit yang mengandung logam tanah jarang, dan monasit ini dijumpai bersama endapan timah dengan sumber daya sekitar 186.000 ton.

Sementara itu di Kalimantan Barat potensi logam tanah jarang dalam bentuk laterit 219 ton dan Sulawesi 443 ton.

Hasil penelitian Badan Geologi Kementerian ESDM pada 2019, logam tanah jarang (LTJ) merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk critical mineral yang terdiri dari kumpulan unsur-unsur scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

Logam Mineral Kritis

Menurut Eko Budi Lelono, selain terindikasi mengandung logam tanah jarang, di dalam lumpur lapindo juga terdapat logam mineral kritis (CRM) yang jumlahnya lebih besar dibandingkan logam tanah jarang.

“Tahun 2020 teman-teman kami terlibat dan melakukan kajian secara umum di Sidoarjo. Selain logam tanah jarang ada logam raw critical material yang jumlahnya lebih besar dari logam tanah jarang,” ungkapnya kepada media, Jumat (21/1/2022).

Tim Humas Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan lebih lanjut, salah satu kandungan langka yang ada di lumpur lapindo adalah mineral-mineral yang termasuk kategori mineral kritis (CRM), yaitu Litium (Li) dan Stronsium (Sr).

Litium juga bisa digunakan sebagai bahan baku untuk baterai kendaraan listrik maupun pembangkit berbasis energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Badan Geologi juga menyebut bahwa lumpur lapindo ini juga bisa dimanfaatkan untuk bahan baku tembikar, bodi keramik, bata, dan genteng.
“Kandungan Litium di lumpur lapindo memiliki kadar 99,26-280,46 ppm, dan Stronsium dengan kadar 255,44 – 650,49 ppm.

“Potensi mineral ekonomis masih dalam tahap penyelidikan umum, sehingga data belum akurat karena secara umum masih menggunakan hasil penyelidikan tahap awal yang belum rinci dan terbatas pada kedalaman dangkal,” tulis keterangan resmi Tim Humas Badan Geologi, Sabtu (22/1/2022). (*)

Berita Lainnya