oleh

Mawar-Melati Potret Miris Pelajar di Tengah Pandemi dan Kemiskinan

SAMARINDA – Dua remaja belia kakak beradik, sebut saja Mawar dan Melati terpaksa hidup tanpa perhatian kedua orangtuanya.

Walau tercatat sebagai pelajar, namun karena keterbatasan perangkat belajar daring, waktu mereka pun lebih banyak dihabiskan untuk bermain.

Bukannya tak ingin belajar online, Mawar dan Melati memang tidak memiliki perangkat HP berbasis Android untuk mendukung sarana belajarnya.

Jangankan membeli HP, pulsa dan kuota internet, untuk makan sehari-hari saja sulit. Keduanya bahkan acap kali “berpuasa” menahan lapar, lantaran tidak memiliki uang.

Mawar dan Melati hidup bersama ayahnya, di sebuah rumah sewaan kecil di Perumahan Samarinda Hill Jalan Rapak Dalam, Samarinda Seberang, per bulannya Rp 300 ribu, dengan kondisi yang kurang layak.

Tempat tinggal yang mereka huni dikelilingi rumah-rumah sebagaimana layaknya di permukiman elite.

Sehari-hari, ayah Mawar dan Melati bekerja sebagai buruh bangunan. Sedangkan ibu mereka, sudah sejak lama pergi, meninggalkan mereka ke Pulau Jawa dan telah menikah lagi.

Baca Juga:   Warga Mulai Terserang Penyakit. Setelah Dilanda Banjir Empat Hari

Ketua TRC PPA Kaltim, (Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak ), Rina Zainun mengatakan, pihaknya menerima laporan dari warga terkait kondisi kehidupan Mawar dan Melati.

Berbekal informasi yang diterima, TRC PA Kaltim turun langsung melakukan pengecekan ke rumah yang ditinggali Mawar dan Melati.

Kebetulan ada seorang lansia yang rumahnya persis bersebelahan dengan anak-anak itu.

Rina dapat laporan, katanya anak ini kondisinya begitu. Dan ia juga sudah cek silang, bagaimana keadaannya.

“Sangat miris. Kami ke sana untuk melihat perkembangan anak-anak itu. Kemarin sudah kami berikan makanan siap saji dan sembako,” katanya.

Mawar adalah pelajar SLTP. Adiknya, Melati, masih duduk di bangku kelas 5 SD.

Namun sejak pandemi Covid-19, pemerintah menetapkan sekolah dilakukan via daring, menyulitkan Mawar dan Melati lantaran keduanya memang tidak memiliki HP.

Baca Juga:   Di Samarinda, 143 Pecandu Narkoba Direhabilitasi

Rina juga mengisahkan, setiap harinya Mawar dan Melati selalu ditinggal bekerja sang ayah sejak pagi hingga malam hari.

Biasanya, setiap pagi sebelum ayah mereka berangkat kerja, keduanya diberikan uang Rp 5 ribu untuk makan.

Namun tak jarang, perut mereka lebih banyak menahan lapar. Karena uang yang diberikan sang ayah tak cukup untuk membeli nasi.

Di tempat tinggalnya, anak ayah ini juga biasa melakukan aktivitas di rumah hanya dengan satu ruangan, mulai tidur, memasak dan sebagainya. Kondisi rumah terlihat berantakan dan kotor.

Dari keterangan anak-anak ini, mereka di kasih uang ayahnya Rp 5 ribu untuk makan. Malamnya, ketika ayahnya pulang kerja, baru dibawakan makanan.

“Sudah lama mereka sewa rumah itu, Rp 300 ribu per bulannya. Itu kondisi barang menumpuk dan tidak layak untuk mereka tinggali. Rumah mereka ini berada di antara rumah mewah,” kata Rina.

Baca Juga:   Potret Kemiskinan di Bengkulu, Penanganannya Harus Sistematis

Menurutnya, tidak ada yang bisa mengontrol perkembangan Mawar dan Melati saat ini.

Padahal, keduanya adalah pelajar yang masih harus banyak beraktivitas mengerjakan pelajaran, walaupun kondisi belajar masih daring.

Untuk itu dia berharap, pemerintah melalui instansi terkait dapat memberikan perhatian kepada Mawar dan Melati, khususnya dalam hal sekolahnya.

Kata Rina, anak ini dari pagi sampai sore kerjanya main di luar rumah. Tidak ada yang mengontrol perkembangan mereka, termasuk ayahnya.

Bagaimana pun, katanya, berdasarkan Undang-undang, anak terlantar dilindungi negara.

Ia berharap ada tindakan dari pihak berwenang, untuk menangani anak ini.

“Kasihan, di saat mereka harus dapat perhatian tapi tidak mereka dapatkan. Jadi bagaimana upaya pemerintah mengakomodir kepentingan anak ini,” ujarnya. (*)

Penulis: URP/Editor : Ony

 

Komentar

Berita Lainnya