oleh

Tak Pulang, Mahasiswa UIN Bandung Asal Sulawesi Lebaran Bersama Pamase

BANDUNG – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, memaksa mahasiswa asal Sulawesi di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN-SGD) Bandung, Jawa Barat, tidak pulang ke kampung halaman.

Hal tersebut tidak menyurutkan niat mereka merayakan Idul Adha 1442 H, meskipun jauh dari orang tua dan sanak keluarga.

Momentum tersebut sekaligus menjadi ajang untuk bersilaturrahim sesama mahasiswa perantauan.

“Kami tak pulang kampung, tapi tetap merayakan Idul Adha sebagai momentum mempererat tali silaturrahim sesama mahasiswa di perantauan,” kata Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Sulawesi (Pamase), Nur Asyikin, Selasa (20/07/2021).

Baca:   Warung, Mal, Restoran, dan Sejumlah Ruas Jalan di Surabaya Mulai Malam Ini Ditutup Pukul 20.00

Menurut mahasiswa semester enam Fakultas Ushuludin, jurusan Filsafat dan Aqidah Islam, ini Pamase adalah wadah bagi mahasiswa perantau dari Sulawesi di UIN Bandung.

“Di Pamase, kami bersilaturrahim sekaligus menjadi tempat menaruh rasa rindu kampung halaman,” ujar mahasiswa kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini.

Dewan Senior Pamase, Andi Muhammah Taufiq, menyatakan hal serupa.

Meskipun rindu membuncah pulang ke kampung halaman tidak tertahankan, namun melalui Pamase mereka bisa menekan kerinduan tersebut melalui silaturrahim.

Baca:   Purbalingga Terapkan Gerakan Tiga Hari di Rumah Saja

“Alhamdulillah, kami bisa berlebaran bersama, sederhana tapi penuh makna,” ujar Muhammad Taufiq, asal Palopo, Sulawesi Selatan yang sudah menyelesaikan studi strata satu ini.

Paling tidak, katanya, mereka bisa merasa senasib dan sependeritaan di kampung orang, sebagai penuntut ilmu yang jauh dari kampung halaman.

Muhammad Akzal Ramadhan, mahasiswa semester empat jurusan Aqidah dan Filsafat Islam asal Mamuju, Sulawesi Barat, menyebutkan, di Pamase dia bisa bersosialisasi dan bertukar pikiran dengan rekan mahasiswa dari seluruh penjuru Sulawesi.

Baca:   Masyarakat Jenuh, Pemerintah Harus Makin Kreatif

“Bahkan, di luar kampus, kami senantiasa bisa bercanda dengan banyolan dan cerita konyol sebagai pelipur lara, jauh dari orang tua dan saudara-saudara di kampung halaman,” kata mantan santri Ponpes Syech Hasan Yamani, Kabupaten Polewali Mandar, dan santri Ponpes As’adiyah, Sengkang, Kabupaten Wajo itu.

“Melalui momentum Idul Adha, ini kami serasa berada di kampung dan keluarga sendiri, sekalipun dirayakan di rumah kontrakan,” kata Akzal semringah. (sur/red)

Editor: Sulaeman Rahman

Komentar

Berita Lainnya