oleh

Terjadi 16 Kali Gempa Guguran, Status Masih Tetap Siaga

YOGYAIARTA – Gunung Merapi hingga saat ini masih dalam fase Erupsi efusif. Yakni, letusan bertekanan kecil, sehingga hanya berupa lelehan material yang berangsur keluar.

Pada periode pengamatan Senin (21/3/2022) pukul 00:00-06:00 WIB teramati adanya asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal dan tinggi 10-20 meter di atas puncak kawah.

Pada pengamatan yang sama juga teramati adanya 16 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-25 mm, dan durasi 28.8-154.3 detik.

Pada periode Minggu (20/3/2022) pukul 00:00-24:00 WIB, teramati adanya asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas sedang, tebal dan tinggi 10-50 meter di atas puncak kawah.

Selain itu juga teramati adanya guguran lava 2 kali jarak luncur 1.000 meter ke arah barat daya.

Baca Juga:   Semeru Meletus Lagi, Semburkan Awan Panas dan Lahar Hingga 17 Km

Meski aktivitas Gunung Merapi masih tinggi tetapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menegaskan bahwa sampai saat ini status Merapi masih berada pada level III atau siaga.

Merapi terus menunjukkan kegiatan vulkanisnya yang nyaris tak pernah putus. Rabu (9/3/2022) tengah malam, ia memuntahkan awan panas 11 kali dengan jarak luncur terjauh mencapai 5 kilometer.

Ujung luncuran awan panas guguran (APG) Gunung Merapi paling jauh teramati hingga di sisi tenggara bunker Kaliadem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), ada 17 awan panas guguran ke arah Kali Gendol pada 9 dan 10 Maret.

“Ujung luncuran APG teramati di sisi tenggara bungker Kaliadem,” kata Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Kamis (10/3/2022).

Baca Juga:   Terjadi Lagi 12 Kali Guguran Lava Pijar, Warga Diimbau Tetap Waspada

Kata Hanik, berdasarkan pantauan foto udara menggunakan drone, jarak luncur APG kali ini mencapai 4,9 km dari puncak Gunung Merapi.

Hanik menuturkan pascarentetan APG ini, status Gunung Merapi masih berada di tingkat Siaga. Status Siaga ini ditetapkan sejak November 2020.

Hanik mengingatkan masih ada potensi bahaya berupa guguran lava dan APG. Rinciannya, di Kali Woro sejauh 3 km dari puncak, Kali Gendol sejauh 5 km dari puncak, Kali Boyong sejauh 5 km dari puncak, serta Kali Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 km dari puncak.

“Sedangkan lontaran material vulkanik jika terjadi Erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak Merapi,” ucap Hanik.

Lebih lanjut, Hanik juga mengimbau masyarakat terkait bahaya lahar sebab musim hujan masih terjadi di wilayah DIY dan Jawa Tengah.

Baca Juga:   Sempat Terjadi Hujan Abu, Awan Panas Meluncur Sampai 2 Km

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Jumat (11/3/2022) pun mengimbau masyarakat yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Merapi untuk mewaspadai hujan abu vulkanik.

Imbauan tersebut khususnya ditujukan bagi warga  yang tinggal di 10 desa di Kecamatan Dukun dan Sawangan, Magelang, Jawa Tengah.

Di Kabupaten Sleman, BPBD setempat khawatir jangkauan awan panas guguran, pada Erupsi Gunung Merapi bertambah jauh.

Pasalnya, jalur aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi kini sudah penuh dengan material erupsi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Makwan menuturkan berdasarkan peristiwa kemarin 9-10 Maret 2022, dengan adanya Awan Panas Guguran (APG) mencapai 5 Km ke arah Kali Gendol. (*/Siberindo.co)

Berita Lainnya