SIBERINDO.CO – Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) terus memperluas ekosistem olahraga inklusif yang ramah bagi disabilitas. Salah satunya dengan menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk BERDAYA di Kota Bandung pada 17-18 Juli 2026.
Program ini merupakan titik kedua sekaligus kelanjutan strategis dari kick-off sebelumnya di Solo yang melibatkan 30 atlet elite internasional. Di Kota Kembang ini, Kemenpora memfokuskan sasarannya pada akar rumput dengan menggembleng 115 peserta yang terdiri dari atlet dan pelatih National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) serta SOINA Kota Bandung.
Tenaga Ahli Menpora, Heru Komarudin, memaparkan urgensi dari pelaksanaan ToT ini. Ia menyoroti realita bahwa angka partisipasi olahraga penyandang disabilitas di Indonesia baru menyentuh angka 11,6 persen.
“Rendahnya akses, minimnya fasilitas, serta langkanya dukungan tenaga pelatih membuat kelompok disabilitas masih enggan berolahraga. Oleh karena itu, melalui program BERDAYA, Kemenpora menargetkan lahirnya 2.000 pelatih bersertifikat. Mereka inilah yang kelak akan menjadi agen perubahan bagi sesamanya di komunitas,” kata Heru.
Dengan terbentuknya ekosistem pelatih inklusif, Kemenpora berharap minimal 20.000 penerima manfaat langsung dan mematok target optimistis untuk mendongkrak persentase partisipasi olahraga disabilitas menjadi 15 persen pada tahun 2029.
Untuk merealisasikan hal tersebut, materi pelatihan difokuskan pada cabang-cabang olahraga yang ramah disabilitas, mudah direplikasi, dan tidak membutuhkan biaya mahal, seperti senam kebugaran adaptif, jalan sehat, boccia, tenis meja, hingga permainan rekreasi. Ratusan peserta ini digembleng langsung oleh para pakar di bidangnya, yakni Muhamad Bram Riyadi, Suryo Saputro Perdana, dan Muhammad Dwiky Anggara.
Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung, Hendy Maulana Yusup, memberikan apresiasi penuh atas inisiatif Kemenpora ini.
“Ini adalah kegiatan yang sangat positif untuk menambah wawasan terbarukan. Harapan kami, peserta yang hadir di sini mampu menjadi penggerak olahraga disabilitas yang aktif membantu dan menemukan bibit-bibit atlet disabilitas baru di Bandung,” ujar Hendy.
Sementara itu para peserta Anang Mulyana, atlet Para PowerLifting Kota Bandung mengatakan program BERDAYA mengubah mindset dari seorang atlet menjadi seorang ‘pemandu bakat’ (talent scout).
Bagi Anang, yang jalan hidupnya berubah total dari seorang pekerja serabutan berkat bakat olahraga yang “ditemukan” secara tak sengaja, pelatihan ini memberinya misi baru yang lebih mulia.
“Selama ini, ilmu angkat berat itu hanya saya gunakan untuk diri saya sendiri. Lewat ToT ini, saya jadi tahu bagaimana caranya menyebarkan ilmu sekaligus menjaring teman-teman disabilitas lain,” ujar Anang antusias. “Saya yakin, di luar sana masih banyak ‘Anang-Anang’ lain yang punya potensi emas, tapi belum mendapat kesempatan,” tambahnya.










