Elly Pujianti bersama rekan-rekan sekantor di PWI Pusat saat perpisahan. (Ist)
MEMASUKI masa pensiun acap kali kecemasan menyergap, padahal itu merupakan akhir yang alami dari karir pekerjaan, terutama bagi pekerja kantoran. Rasa terkejut dan haru bisa saja muncul, tetapi kegembiraan dan rasa syukur juga senantiasa menyertai momen ini.
Elly Sri Pujianti, yang telah mengabdi di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat selama 32 tahun, kini menghadapi masa pensiunnya.
Elly yang sehari-hari bekerja di lantai 4 Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, sempat merasa kaget ketika diberitahu tentang masa pensiunnya oleh Sekjen PWI. Namun, dia cepat menyadari dan menerima dengan ikhlas.
Pada Jumat petang (17/5), Elly yang mengenakan kebaya lengkap dengan selendang, mengadakan syukuran di restoran Gedung Sarinah, yang telah direnovasi menjadi lebih modern. Acara ini dihadiri oleh rekan-rekan dari PWI dan kerabat dekat, termasuk M Nasir, Ibu Artini, dan wartawan senior Karim Paputungan.
“Saya sempat kaget saat diberi tahu, tetapi saya langsung sadar dan ikhlas karena waktunya memang sudah tiba,” kata Elly sambil tersenyum.
Elly mengundang sekitar 20 orang untuk menikmati hidangan khas Thailand dan memberikan suvenir berupa pin cantik bertuliskan “Retirement Party, Say Goodbye to Elly. Friday May 27th, 2024.”
Masa Pensiun: Bukan Perpisahan
Dalam testimoninya, Nasir menyatakan bahwa masa pensiun adalah waktu yang ditunggu oleh para pekerja dan bukan berarti perpisahan. “Kita akan tetap bertemu lagi. Sambutlah masa pensiun dengan kegembiraan dan rasa syukur,” ujarnya.
Nasir, yang telah lama bekerja sama dengan Elly, mengapresiasi dedikasi Elly terutama selama masa pandemi Covid-19. “Sering kali saya menelepon pada jam 1 atau 2 dini hari untuk mendata wartawan yang akan divaksinasi dan tes PCR,” tuturnya.
Nasir mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kerja keras Elly untuk kepentingan sosial dan kantor. “Selamat menjalani masa pensiun dengan bahagia,” katanya.
Waktu untuk Keluarga
Elly menerima banyak ucapan selamat dan doa dari rekan-rekannya di PWI. Ibu Artini mendoakan agar Elly menikmati waktu lebih banyak dengan keluarga, sedangkan Taty, senior Elly, mengingatkan agar mereka tetap menjaga hubungan baik.
Yudi menyatakan bahwa Elly seperti ibu baginya, dan Ono berterima kasih karena Elly memperkenalkan gadis yang kini menjadi istrinya.
Rekan lainnya, Lia, mengenang kebersamaan mereka selama acara Hari Pers Nasional (HPN).
Ibu Tunggal Tangguh
Ell, seorang ibu tunggal sejak anak bungsunya berusia 2,5 tahun, berhasil membesarkan dua putri yang kini sukses di bidang masing-masing. Putri pertamanya, Astrid, adalah alumni Sekolah Tinggi Desain Inter Study dan kini mengajar di TK. Putri keduanya, Virginania, lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan kini berkarier di perusahaan Korea.
Elly juga sudah menjadi nenek dari Rheannen yang sedang kuliah S-2 di Fakultas Hukum UI, dan Alexandria yang masih SMA. Elly selalu memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang memadai sebagai bekal hidup mereka.
“Selain sekolah dan kuliah, anak-anak juga saya ikutkan pendidikan keterampilan sebagai bekal penghidupan,” ujarnya.
(karimpaputungan@gmail.com)










