SEMARANG – Seorang bidan, Sweetha Kusuma Gatra (32) dan anaknya Faeyza Alfarisqi (5), jadi korban pembunuhan. Jasad keduanya dibuang di bawah jembatan Tol Semarang KM 425.
Jenazah korban pembunuhan ini ditemukan warga pada Minggu (13/3/2022). Tiga hari kemudian, polisi berhasil mengungkap kasus ini dan meringkus tersangka pelakunya.
Dia adalah Dony Christiawan Eko Wahyudi (31), warga Dusun Sumber Girang Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Polisi menangkap Dony di depan Mapolda Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang, saat yang bersangkutan mengendarai sepeda motor, Rabu (16/3/2022) malam.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah Kombes Polisi Djuhandani Raharjo Puro menjelaskan, tersangka diketahui setelah identitas Sweetha diungkap.
Tak memakan waktu lama, polisi melakukan penyelidikan dan meminta keterangan beberapa saksi. kemudian mengerucut ke tersangka yang merupakan pacar korban.
Pasalnya, terakhir kali korban bertemu tersangka sebelum dilaporkan hilang pada Senin (14/3/2022).
“Kunci pengungkapan tersangka dari identitas korban. Setelah korban diketahui, anggota langsung bergerak mendalami penyelidikan berikut keterangan beberapa saksi,” ujar Djuhandani di Mapolda Jawa Tengah, Jumat (18/3/2022) siang.
“Dapatlah petunjuk, bahwa korban sebelum dilaporkan hilang berpamitan kalau akan ke Semarang bertemu pacarnya yakni tersangka,” imbuh dia.
Dirkrimum menyebut, sebelum ditangkap tersangka bermaksud pura-pura melapor ke polisi karena kehilangan pacarnya.
“Tersangka mau pura-pura lapor ke Polda karena kehilangan pacar. Dia ingin mengalihkan alibi,” ujar dia.
Dari hasil penyelidikan, tersangka juga mengakui, sebelum membunuh Sweetha terlebih dulu membunuh anak Sweetha, Faeyza Alfarisqi.
Anak itu dihabisinya dengan cara disiksa, dikunci di kamar dan tak diberi makan.
Faeyza yang masih berusia 5 tahun mati lemas pada 19 Februari 2022. Dony membuang mayatnya ke bawah jembatan Tol Semarang KM 426 pada 20 Februari.
“Memang anak korban dititipkan.pada tersangka. Namun di rumah tersangka, anak ini malah disiksa, dipukuli, dikunci di kamar, tak dikasih makan sampai akhirnya mati lemas,” jelas Djuhandani.
“Tersangka pun memastikan anak korban tewas kemudian dibuang ke bawah jembatan Tol,” tambah dia.
Sementara, pembunuhan Sweetha dilakukan pada 7 Maret di sebuah hotel di Semarang.
Ia juga membuang mayat Sweetha ke bawah jembatan Tol Semarang KM 425.
Pengakuan tersangka ini cocok dengan identitas tengkorak dan serpihan tulang anak yang ditemukan Polisi pada Rabu (16/3/2022) sore.
“Visum sementara identik, ada kecocokan. Struktur anatominya anak-anak dan sama dengan mayat korban Sweetha”, ujar Kabid Dokkes Polda Jawa Tengah Kombes Polisi Sumy Hastry.
Untuk melengkapi penyidikan, pihaknya akan melakukan tes DNA dengan mayat Sweetha dan keluarganya.
Pengungkapan kasus ini bermula dari penemuan mayat perempuan tanpa identitas di bawah jembatan Tol Semarang KM.425 pada Minggu (13/3/2022).
Untuk mengungkap identitas, Polisi mengunggah sejumlah barang dan pakaian yang melekat pada mayat ke media sosial dan berhasil memancing warga yang kehilangan anggota keluarga.
Sweetha dikenal sebagai pribadi yang ceria. Ia merupakan anggota Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Ranting Sleman Tengah.
Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Ranting Sleman Tengah Dwi Rahmawati, mengenang sosok korban.
Sweetha semasa hidupnya dikenal sebagai pribadi yang ceria dan mudah bergaul.
“Kabar ini benar-benar membuat kami agak syok ya,” kata Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Ranting Sleman Tengah Dwi Rahmawati, Kamis (18/03/2022).
Dwi menyampaikan, korban bergabung ke IBI Sleman Tengah sejak Oktober 2021. Korban bekerja di Rumah Sakit Mitra Sehat, Gamping, Sleman.
Pada 24 Februari 2022 lalu menjadi pertemuan terakhir Dwi dengankorban.
Saat itu korban masuk dalam tim vaksinator dalam kegiatan vaksinasi massal.
“Waktu itu memang sedang melakukan vaksinasi massal kemudian ada bantuan vaksinator dari tim IBI nah itu di situ itu,” tutur dia.
Dwi mengungkapkan, korban merupakan pribadi yang ceria dan mudah bergaul. (*/Siberindo.co)







