oleh

Mahfud MD: Awas, Tokoh VVIP Jadi Sasaran

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengaku mendapat informasi pergerakan teroris muda yang sengaja dilatih untuk meneror kepada beberapa pihak.

Ia mengatakan, sekelompok anak muda itu dilatih secara khusus untuk melakukan aksi teror kepada pihak tertentu yang secara khusus dipilih.

“Saya dapat info ada sekelompok anak-anak muda yang dilatih di suatu tempat khusus untuk meneror VVIP (Very-Very Important Person),” kata Mahfud dalam sambutan dalam acara Penyerahan Hasil Evaluasi dan Rekomendasi Kebijakan Kementerian atau Lembaga di Bidang Kesatuan Bangsa, Rabu (16/12) malam.

Baca Juga:   Densus 88 Tangkap Dua Teroris Berafiliasi ISIS di Sampit, Warga Kaget

Mahfud tak merinci mengenai pihak VVIP yang terancam jadi sasaran teror anak-anak muda yang baru menjalani pelatihan tersebut.

“Saya dapat foto latihannya juga, nah yang seperti ini jadi ideologi itu radikalisme yang mengarah, menghantam ideologi itu satu intoleran, dua yang lebih parah dari itu adalah teror. Teror itu karena paham jihadis. Paham jihad yang salah,” katanya sebagaimana dikutip CNN Indonesia.

Baca Juga:   Satu Lagi Anggota Brimob Gugur, Pihak KKB Menantang TNI-Polri

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan survei mereka menemukan fakta bahwa potensi radikalisme pada 2020 menurun, terjadi feminisasi radikalisme, urbanisasi radikalisme, radikalisasi generasi muda dan netizen, dan literasi digital yang belum mampu menjadi daya tangkal efektif melawan radikalisasi.

Dalam survei yang digelar bersama lembaga Alvara tersebut, indeks potensi radikalisme pada 2020 mencapai 14,0 (pada skala 0-100) atau turun 12,2 persen dibanding pada 2019 yang mencapai 38,4 (pada skala 0-100).

Baca Juga:   DPR Ingatkan Ridwan Kamil, Jangan Tambah Masalah

Survei itu dirilis BNPT pada pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12) malam.

Menyikapi hasil survei tersebut, Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan seluruh elemen yang terlibat dalam kerja-kerja kontra radikalisme menjadi berpuas diri dan terlena.

Pasalnya, penetrasi dari jaringan teroris internasional dalam proses radikalisasi itu mencoba menyasar generasi milenial dan generasi Z dengan keberadaan dan kemajuan dunia digital. (*)

Komentar

Berita Lainnya