JAKARTA – Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menghadapi ancaman penghentian operasional di Jalur Gaza, Palestina. Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa badan tersebut semakin dekat dengan titik di mana mereka tidak bisa lagi menjalankan tugas kemanusiaannya.
“Saya tidak akan menyembunyikan fakta bahwa kami mungkin mencapai titik di mana kami tak dapat lagi beroperasi,” ujar Lazzarini dalam konferensi pers di Berlin, seperti dikutip dari Al Jazeera. Meskipun demikian, ia tidak memberikan rincian penyebab maupun waktu pasti kapan situasi ini akan terjadi.
UNRWA, yang dibentuk untuk membantu pengungsi Palestina sejak 1949, kini mengalami kesulitan besar, terutama setelah agresi Israel yang dimulai pada Oktober 2023. Sejumlah negara pendukung Israel mulai menghentikan bantuan dana untuk UNRWA, dengan tudingan bahwa beberapa staf badan tersebut terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober.
Meskipun telah melakukan investigasi internal dan memecat sejumlah staf yang dicurigai terlibat, kondisi UNRWA tidak membaik. Dua donatur utama, Amerika Serikat dan Jerman, menghentikan sumbangan mereka, mengancam keberlanjutan layanan penting bagi pengungsi Palestina.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah mendesak para negara donatur untuk kembali memberikan bantuan demi menjamin keselamatan warga Gaza. Namun, negara-negara Barat tetap bersikukuh pada keputusan mereka. Sementara itu, Israel, yang sejak Juli lalu melabeli UNRWA sebagai organisasi teroris, baru-baru ini menyetujui rancangan undang-undang yang melarang operasi UNRWA di wilayah Israel.
Saat ini, UNRWA masih beroperasi di Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Yordania, Lebanon, dan Suriah. Di Gaza, UNRWA terus melaksanakan layanan kemanusiaan, termasuk program vaksinasi polio dan Vitamin A bagi lebih dari 64 ribu anak Palestina.
Namun, tanpa dukungan finansial yang stabil, keberlangsungan program-program ini kian tidak pasti di tengah konflik yang berkepanjangan.(*)










