WASHINGTON – Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas penyimpanan senjata milik kelompok Houthi di Yaman, Kamis (17/10/2024). Serangan ini menargetkan lima lokasi bawah tanah yang digunakan untuk menyimpan senjata, dengan menggunakan pesawat pengebom siluman strategis B-2. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin.
Menurut Austin, operasi tersebut merupakan respons atas serangan terus-menerus yang dilakukan Houthi terhadap kapal sipil dan militer di wilayah tersebut. “Serangan ini menunjukkan kemampuan Amerika Serikat untuk menghancurkan target yang terkubur dalam dan diperkuat, di mana pun lokasinya,” ujar Austin dalam pernyataannya yang dikutip dari The Guardian.
Pesawat B-2 yang digunakan dalam serangan ini mampu membawa muatan bom lebih berat dibandingkan jet tempur biasa, menandai pertama kalinya AS menggunakan pesawat siluman tersebut dalam operasi melawan Houthi. Serangan sebelumnya dilakukan pada 4 Oktober, juga menargetkan sistem senjata dan pangkalan kelompok Houthi.
Kelompok Houthi, yang didukung oleh Iran, telah menguasai ibu kota Yaman, Sana’a, selama hampir satu dekade. Serangan balasan dari AS ini terjadi setelah Houthi terus menyerang kapal-kapal komersial dan militer di Laut Merah sebagai bagian dari dukungan mereka terhadap Palestina dalam konflik dengan Israel.
Serangan terbaru ini menambah eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama dengan keterlibatan pasukan AS yang mulai berdatangan ke Israel guna memperkuat pertahanan negara tersebut dari ancaman rudal Iran. (*)










