oleh

Setahun Gempa Bumi Mamuju-Majene, Pengalaman Buruk Korban Jadi Pelajaran

Catatan: M Danial/Tim Paceko.com

TIDAK terasa satu tahun berlalu. Gempa bumi berkekuatan tinggi mengguncang Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat. Terjadi dua hari berturut-turut dalam waktu tidak lebih 12 jam. Gempa pertama berkekuatan M 5,9 terjadi Kamis 14 Januari pukul 14:45 Wita. Gempa kedua berkekuatan M 6,2 mengguncang pada Jumat 15 Januari pukul 02:28 dinihari. Terjadi juga belasan kali gempa berkekuatan kecil.

Guncangan hebat dua hari berturut-turut itu, mengakibatkan ribuan bangunan dan infrastruktur mengalami kerusakan di Kota Mamuju dan beberapa kecamatan. Hal yang sama di wilayah Kabupaten Majene. Belasan ribu warga mengungsi yang tersebar pada ratusan lokasi di Kabupaten Majene dan Mamuju. Ribuan lainnya mengungsi ke Kabupaten Polewali Mandar dan Mamasa. Tercatat ribuan korban menderita luka berat atau luka ringan, ratusan lainnya korban jiwa. Data terakhir jumlah korban jiwa tercatat 105 orang.

Pada gempa pertama pada Kamis siang, sedang berlangsung rapat pimpinan Pemprov di lantai IV Kantor Gubernur Sulbar. Rapat dihadiri ratusan pejabat, termasuk Gubernur Ali Baal Masdar dan Wakil Gubernur Enny Angraeni Anwar, serta Sekprov Muhammad Idris. Saat terjadi guncangan gempa berkekuatan M 5,9, semua langsung berhamburan menyelamatkan diri.

Gempa kedua pada Jumat dinihari, gedung utama Kantor Gubernur Sulbar ambruk seketika. Hanya sekira 10-an persen bangunan yang tersisa. Belasan bangunan pemerintah dan swasta, termasuk hotel rusak parah. Longsor yang terjadi di beberapa titik sepanjang jalan Trans Sulawesi antara Majene-Mamuju, menyebabkan akses jalan terputus tertimbun material longsoran. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulbar mencatat hari itu 27 warga dilaporkan meninggal akibat tertimbun reruntuhan bangunan.

Guncangan gempa tidak hanya mengakibatkan juga kerusakan jaringan listrik dan akses komunikasi. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati menyebut gangguan listrik dan komunikasi terjadi di Kabupaten Mamuju. “Jaringan listrik dan komunikasi seluler juga terjadi di Kabupaten Mamuju,” katanya (Kompas.com, 15/1/21). Lantaran jaringan komunikasi seluler terganggu, bahkan sempat tidak dapat diakses, hari itu banyak warga yang rela berjalan kaki belasan kilometer untuk segera tiba di Mamuju memastikan kondisi keluarganya.

Gempa bumi Majene-Mamuju yang terjadi 14 dan 15 Januari hampir serupa dengan gempa yang sebelumnya pernah terjadi di wilayah ini. Dikutip dari Kompas.com (15/1/21), Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengatakan gempa itu merupakan gempa bumi pengulangan. Maksudnya, berdasarkan sejarah episentrum gempa yang terjadi dua kali terakhir, berdekatan dengan sumber gempa yang mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa.

Dikutip dari berbagai sumber, sejarah peristiwa gempa bumi di wilayah ini pertama terjadi pada 11 April 1967 di Kabupaten Polewali Mandar. Tepatnya di lepas pantai Tinambung. Gempa berkekuatan M 6,3 itu disertai tsunami, menyebabkan 13 orang meninggal dunia.

Gempa serupa terjadi yang kedua pada 23 Februari 1969 di Majene, berupa gempa bumi tektonik dengan kekuatan M 6,3. Gempa tersebut menimbulkan banyak kerusakan dan korban, yaitu 63 orang meninggal dunia, 97 orang terluka dan ribuan bangunan serta rumah warga rusak di pesisir pantai Majene.

Guncangan gempa ketiga terjadi pada 8 Januari 1984 di Mamuju berkekuatan M 6,7. Berdasarkan catatan BMKG, gempa itu tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, banyak rumah dan bangunan mengalami kerusakan karena intensitas guncangan gempa.

Dikutip dari bnpb.go.id (03/02/1), Koordinator Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan bahwa Sulawesi memiliki lebih dari 45 segmen sesar aktif yang telah dipelajari para ahli kebumian. “Terjadinya gempa merusak di Majene bukan hal aneh. Secara tektonik, wilayah pesisir dan lepas pantai Sulawesi Barat terletak do zona jalur lipatan dan sesar atau fold dan thrust belt,” beber Daryono.

Fenomena gempa berulang tersebut, merupakan pembelajaran penting menghadapi potensi dampak yang bisa terjadi. Diperlukan sosialisasi dan edukasi, serta mitigasi gempa yang memadai kepada masyarakat. Perlu juga penyiapan lokasi evakuasi dan pengungsian yang aman dan diinformasikan kepada masyarakat. Selain itu, evaluasi kekuatan bangunan yang aman bagi masyarakat. Pengalaman buruk yang dialami para korban gempa 15 Januari lalu harus menjadi pelajaran bagi pemangku kebijakan, untuk melakukan upaya maksimal bagi masyarakat.

Diperlukan antisipasi secara serius, agar pengalaman buruk penanganan korban gempa tidak terulang kembali. Menghindari kegagapan pemerintah dalam penanganan dampak gempa. Agar tidak terjadi lagi langkah penanganan ibarat kaset usang yang diputar kembali. (**-paceko)

Berita Lainnya