oleh

Paus Fransiskus Turut Berduka dan Kirim Doa bagi Indonesia

JAKARTA – Paus Fransiskus mengungkapkan kedekatannya dan melambungkan doa bagi semua yang terkena dampak gempa bumi di Sulawesi, Indonesia.

Demikian dilaporkan vaticannews.va, Sabtu (15/1/2021).  Laporan itu diterjemahkan Pastor Postinus Gulö, OSC, kemudian diunggah sebagai utas di akun twitter-nya.

Disebutkan, Paus Fransiskus sedih mengetahui terjadinya kehilangan tragis dan kehancuran yang disebabkan oleh gempa bumi dahsyat itu.

Dalam telegram yang dikirim atas nama Bapa Paus Fransiskus, oleh Kardinal Sekretaris Negara Pietro Parolin, Paus mengungkapkan solidaritas yang tulus bagi semua yang terdampak bencana ini.

Baca Juga:   Semeru Meletus: Awan Panas Jangkau 800 Meter, Dua Kecamatan Gelap Gulita

“Bapa Paus berdoa untuk ketenangan jiwa korban meninggal. Penyembuhan bagi yang terluka dan penghiburan bagi semua yang berduka,” demikian pernyataan itu.

Gempa berkekuatan 6,2 skala Richter mengguncang Sulawesi, tepat setelah tengah malam Jumat (15/1/2021). Sejumlah orang meninggal dan terluka.

Pihak berwenang masih mengumpulkan informasi tentang jumlah korban dan kerusakan di daerah yang terkena dampak.

Baca Juga:   Gempa Banten: Lebih 120 Desa Terdampak, 1100 Rumah Rusak

Ada laporan tentang banyak orang yang terperangkap dalam reruntuhan rumah dan bangunan yang runtuh.

Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, hingga Sabtu (16/1/2021), pukul 12.00 Wita, tercatat sudah s46 orang.

Jumlah itu berdasarkan laporan terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Barat.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Sulbar Darno Majid mengatakan, 46 korban tersebut terdiri atas 37 orang meninggal di Mamuju dan 9 lainnya meninggal di Majene.

Baca Juga:   Ratusan Personel Gabungan Ikuti Latihan Penanggulangan Bencana Alam Korem Gapu

“Korban jiwa di Sulbar mulai hari ini telah tercatat sudah 46 orang. Itu akibat reruntuhan,” kata Darno.

Darno mengatakan, saat ini masih ada ratusan orang yang mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan.

Darno mengatakan, masih banyak warga yang memilih mengungsi sendiri tanpa tercatat BPBD.

Warga yang tercatat ini mengungsi di daerah pegunungan, karena khawatir dengan tsunami yang bisa saja terjadi. (*)

Komentar

Berita Lainnya