oleh

Ada Peradaban Tinggi ‘Dikandung’ Kampung Segeram Belum ‘Terlahirkan’

NATUNA–Kampung Segeram di Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau ‘mengandung’ peradaban sejarah yang belum ‘terlahirkan’ oleh para pemangku kepentingan.

Pembuktian sekaligus pengungkapan fakta kajian sejarah apa saja yang ‘terkandung’ di Segeram menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah daerah. Kandungan sejarah bernilai tinggi, yang selama ini masih terpendam di Segaram, harus segera ‘terlahirkan’.

Berdasarkan hasil riset dari aksi yang dilakukan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna klaster sejarah sosial masyarakat Segeram yang dimulai dari tanggal 12 sampai dengan 15 Agustus 2021 dalam rangka Milad STAI Natuna Ke-19, menemukan berbagai informasi berharga dari perspektif keilmuan.

Pembina Yayasan Abdi Umat Kabupaten Natuna H Umar Natuna, SAg, MPd I, mengungkapkan informasi berharga tersebut mereka peroleh karena adanya berbagai temuan tentang babakan sejarah kehidupan masyarakat Segeram dari masa ke masa.

“Periode awal, masa kejayaan Segeram sebagai pusat pemerintahan atau kampung induk. Periode dark age (gelap) masa gelap dan hilang. Kemudian periode kebangkitan kembali, lebih kurang 300 tahun ditandai dengan kehidupan ramai,” sebutnya kepada koranperbatasan.com grop siberindo.co di tulis melalui pesan WhatsApp, Minggu 15 Agusutus 2021.

Konflik Internal

Menurut H Umar, berbagai aspek kehidupan tumbuh, di bawah kendali Datuk Kasim, dan diteruskan oleh Datuk Yunus, Usman, Zainal, Syaili, dan lain-lain. Kemudian mengalami kemunduran kembali, karena konflik internal (keluarga) besar.

“Akibatnya terjadi migrasi secara besar-besaran, masyarakat keluar meninggalkan Segeram, dan hanya tersisa 7 Kepala Keluarga (KK),” ujarnya.

Pembina Yayasan Abdi Umat Kabupaten Natuna, H. Umar Natuna, bersama Tim Riset Aksi STAI Natuna, dan tokoh masyarakat setempat menemukan beberapa makam tanpa batu nisan di hutam Segeram.

Selanjutnya, kata H Umar, bangkit kembali sekitar tahun 70-an dan mundur lagi sekitaran tahun 85-an.

“Karena banyak yang pindah untuk masa depan sekolah anaknya, maka priode sekarang, hanya ada 34 KK, dan kehidupan sosialnya kurang kompak atau kurang bersatu. Mungkin sisa luka sejarah masa lalu atau karena mitos kutukan?,” imbuhnya.

Riset terakhir yang dilakukan tutur H. Umar, mengunjungi dan mereview Makam Tujuh. Makam Tujuh adalah makam yang terdiri tujuh dan berderet dalam bentuk unggukan atau tumpukan tanah yang berbentuk kuburan.

“Makam ini tidak ada lagi nisannya, karena mungkin sudah lapuk atau memang seperti itu asli sebagai mana ciri khas makam di Kampung Segeram. Utamanya Makam Putri Bulan di Gunung Sedenuk,” tuturnya.

Umar menerangkan terdapat empat jenis atau bentuk nisan makam tua yang meraka temukan di Segeram. Pertama, memanjang berukir terbuat dari batu karang. Kedua, bulat seperti bola lempar lembing terbuat dari batu hitam. Ketiga, tegak lurus berukiran terbuat dari batu semen. Kemudian yang keempat tanpa nisan.

Dari riset aksi STAI Natuna juga ditemukan peninggalan sejarah masyarakat Segeram berupa makam utama. Makam Tujuh dan makam biasa masa awal tidak kurang tiga ratusan yang terhampar di lokasi seluas 5 hektar.

“Ada juga peralatan perang seperti meriam dan kelengkapan (peluru), perkakas rumah tangga dalam bentuk mangkok, keris perisai para pemimpin atau sultan, rumah-rumah besar, dan nama-nama tempat yaitu Sungai Datuk Kasim, Sungai Datuk Abu, dan Sungai Datuk Udin,” katanya.

Tindakan setelah dilakukan riset aksi itu lanjut H. Umar, akan di tulis, untuk diterbitkan menjadi buku bacaan sejarah dan jurnal. (KP).

Komentar

Berita Lainnya