oleh

Tanamkan Kembali Nilai Luhur Budaya Melayu dan Sejarah di Haul Sultan Abdurahman

TANJUNGPINANG–Niat untuk membangkitkan kembali nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh para pemimpin Kesultanan Riau Lingga. Sebagai penghargaan atas besarnya jasa-jasa Kesultanan Riau Lingga di Pulau Penyengat dan Nusantara dalam menanamkan budaya melayu.

Dikutip dari www.infotiga.com  dari Lokasi pelaksanaan kegiatan Haul, pada Jumat, 11 Maret 2022 di Pulau Penyengat Kota Tanjungpinang.  Acara Haul merupakan kegiatan rutinitas tahunan yang diselenggarakan masyarakat Melayu di Pulau Penyengat. Ketua Panitia Pelaksana Haul.

Tengku Fuad, menjelaskan bahwa acara haul itu dihadiri oleh lebih dari 200 undangan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pendidikan, hingga unsur-unsur pemerintahan dari tingkat Kabupaten/Kota se-Kepri, hingga tingkat provinsi Kepulauan Riau.

Tujuan haul, kata Tengku Fuad, merupakan peringatan hari wafatnya para tokoh Kesultanan Riau Lingga sambil mengenang keteladanan, serta mendoakan agar jasa-jasa para pemimpin itu dijadikan motivasi oleh generasi sekarang.

”Mengingatkan kepada kita bahwa beliau adalah orang besar.  Seorang kepala negara dengan lama jabatan 26 tahun, penguasa, meninggalkan jejak sejarah Melayu yang tidak boleh diabaikan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Kepulauan Riau,” ucapnya

Fuad menyebut dalam acara dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaaan Provinsi Kepulauan Riau Juramadi Esram, Ketua LAM Kota Tanjungpinang, Anggota DPRD Provinsi Lis Dharmansyah, dan Wakil Komandan Lantanamal IV Tanjungpinang, Lurah, Ketua Pengurus Masjid se-Kota Tanjungpinang, dan para tokoh masyarakat.

Baca Juga:   Kapal layar Arka Kinari Singgah di Kawasan Rempah

Di sisi lain Fuad menyayangkan, pemerintah di tingkat Kota Tanjungpinang, serta Provinsi Kepulauan Riau, minim perhatian dan dukungan.
Tausyiah dan Sholawat dalam acara Haul Sultan Abdurahman Penyengat

”Kami kecewa, karena pemerintah daerah tidak menunjukkan keseriusan dalam mendukung kegiatan budaya seperti sekarang ini, sehingga kami bertanya,  Di mana kehadiran pemerintah dalam kegiatan pelestarian budaya,” tanya Fuad.

Selain diisi dengan kilasan sejarah tentang perjuangan Paduka Sri Nasrul Zaman, Sutan Abdurrahman Muazzamsyah, dan Ibni Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf Ahmadi Al-Khalidi, Acara juga diisi dengan kajian ilmiah serta Tausyiah dan shalawatan. Sebab Kerajaan Riau Lingga tak lepas dari budaya Melayu yang bersendikan pada Agama Islam.

”Kami bersyukur acara Haul yang diselenggarakan Jumat (11/3/2022) lalu. Kami juga tak lupa mengucap terimakasih atas tingginya apresiasi dan penghargaan yang disampaikan beberapa tokoh yang hadir dalam acara,” kata Sultan Riau Lingga, Tengku Armizan.

Baca Juga:   Wisata di Natuna, Dari Jangkar dan Telaga Tua Peninggalan Jepang Hingga Goa Hantu

Tengku kembali menguraikan bahwa Kegiatan Haul, yakni acara peringatan atas kematian Sultan Riau Lingga, yang difokuskan mengingat, membangkitkan kembali nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh para pemimpin Kesultanan Riau Lingga.

Paduka Sri Nasrul Zaman dan anaknya Sultan terakhir Riau Lingga Abdurrahman Muazzamsyah, serta Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf Ahmadi Al-Khalidi.

”Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengingat kembali perjuangan Sultan Abdurrahman Muazzamsyah serta mendoakan semoga amal sholeh dan perjuangan beliau selalu dirahmati oleh Allah SWT,” ucapnya.

Paduka Sri Nasrul Zaman dan Sultan Abdurrahman Muazzamsyah, serta Ibni Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf Ahmadi Al-Khalidi adalah pemimpin Kesultanan Riau Lingga sejak 1885 – 1911.

Tengku Fuad Ketua Panitia Pelaksana Haul Sultan Abdurahman Kesultanan Riau Lingga, Penyengat
Mereka, kata Armizan, telah berhasil meletakkan nilai-nilai budaya Melayu yang patut dijaga dan dilestarikan oleh segenap keturunannya secara khusus, dan masyarakat luas di Kepulauan Riau secara umum.

Dalam tausiyahnya pimpinan Majelis Nurul Mustafa, Ust Abi Alfi Muhammad Ismail SLA, di Masjid Raya Sultan Riau Lingga, Pulau Penyengat, menekankan keteladanan para tokoh Kesultanan Riau Lingga itu.

Baca Juga:   Upaya Penghapusan Sejarah Membahayakan Generasi Muda

Sehubungan dengan acara haul itu, menurut Ust Abi Alfi Muhammad Ismail SLA, masyarakat perlu mengingat keteladanan para pemimpin yang sedang dikenang hidupnya.

”Acara Haul ini mengingatkan kepada kita bahwa kehidupan tidak ada yang tetap.  Akan datang yang baru dan akan pergi yang lama. Meski demikian, seharusnya kita lebih waspada. Salah satu kewaspadaan adalah dengan meneladani kehidupan para tokoh, seperti Kesultanan Riau Lingga yang meninggalkan banyak keteladanan.  Nama yang harum yang kita kenang sampai hari ini, tentu diperoleh karena berjuang untuk sebuah nilai yang tinggi, luhur yang menjadi pola hidup yang perlu kita tiru,” ucapnya.

Acara haul, juga dimeriahkan dengan syair Teraju Negeri dipimpin oleh Ramli Muasmara, MPdI bersama Dr Muhammad Faisal, M Ag. Syair itu menggambarkan perjuangan tokoh Kesultanan Riau Lingga.

Membuat para penonton berdecak kagum dan merinding, sebab syair Teraju Negeri yang khas Melayu Kepulauan Riau ini sudah jarang di tampilkan. Syair yang padat akan puji-pujian kepada Allah dan Rasullulah ini membuat acara hikmat dan menyisakan air mata para zuriat dan pengunjung. (Devi-Zekma)

Berita Lainnya