PARIS — Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan pembicaraan serius mengenai situasi regional di Timur Tengah dengan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani dan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri. Dalam diskusi tersebut, Macron menyampaikan keprihatinannya atas eskalasi kekerasan yang terjadi, khususnya serangan udara Israel di Gaza dan Lebanon.
Menurut pernyataan resmi Istana Elysee, Macron dan al-Sudani pada Sabtu (12/10/2024) menegaskan pentingnya mencegah konflik lebih lanjut di kawasan itu. Kedua pemimpin sepakat untuk terus memperkuat hubungan bilateral, terutama dalam menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks.
Macron juga menekankan solidaritasnya terhadap warga sipil yang terdampak langsung oleh serangan di Gaza dan Lebanon, dan menyerukan gencatan senjata segera di kedua wilayah tersebut.
Secara terpisah, dalam pembicaraannya dengan Nabih Berri, Macron menyuarakan kekhawatiran mendalam atas dampak dramatis dari serangan Israel di Lebanon, yang telah menewaskan lebih dari 1.400 orang dan mengakibatkan lebih dari 1,3 juta orang mengungsi. Macron menegaskan komitmen Prancis untuk menjaga kedaulatan dan keamanan Lebanon sesuai dengan Resolusi PBB 1701, serta mendesak adanya kesepakatan politik guna memilih presiden yang dapat menjamin persatuan nasional.
Konferensi internasional untuk mendukung Lebanon direncanakan digelar di Paris pada 24 Oktober mendatang, sebagai upaya Prancis untuk menggalang dukungan internasional bagi negara yang tengah berada dalam krisis tersebut.
Sementara itu, serangan udara besar-besaran Israel yang menargetkan Hizbullah sejak 23 September terus berlanjut, memperburuk situasi keamanan di wilayah tersebut. Meskipun ada peringatan internasional, ketegangan di kawasan itu semakin meningkat dengan serangan Israel yang kini meluas hingga Lebanon selatan. (*)










