oleh

Fosfin Tedeteksi di Venus, Ilmuan: Ada Tanda Kehidupan di Sana

Para ilmuwan mendeteksi adanya zat asam di Venus. Ini ditunjukan lewat sebuah gas yang disebut fosfin dalam mikroba pada planet yang berdekatan dengan Bumi itu. Tanda-tanda kehidupan di sana pun terus diteliti di tengah perdebatan muncul terhadap fenomena yang ditemukan.

JAKARTA – Venus adalah planet tetangga terdekat Bumi. Mirip dalam struktur tetapi sedikit lebih kecil dari Bumi. Ini adalah planet kedua dari matahari. Bumi adalah yang ketiga. Venus sendiri, terbungkus dalam atmosfer beracun yang tebal yang terperangkap dalam panas.

Para peneliti memang tidak menemukan bentuk kehidupan yang sebenarnya, tetapi mencatat bahwa di Bumi fosfin diproduksi oleh bakteri yang berkembang di lingkungan yang kekurangan oksigen.

Temuan ilmuan ini terdeteksi lewat Teleskop James Clerk Maxwell di Hawaii dan diinformasikan lwat teleskop radio Atacama Large Millimeter/ submillimeter Array (ALMA) di Chili.

”Saya sangat terkejut sebenarnya,” kata astronom Jane Greaves dari Universitas Cardiff di Wales, penulis utama penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Astronomy, Selasa (15/9).

Baca Juga:   Yasonna Sodorkan Lima Usulan

Keberadaan kehidupan di luar bumi memang telah lama dicari. Ini menjadi salah satu pertanyaan terpenting dalam sains.

”Adanya Fosfin merupakan jawaban terhadap kehidupan di Venus. Walaupun kedengarannya fantastis,” imbuh ahli astrofisika molekuler Institut Teknologi Massachusetts dan rekan penulis studi Clara Sousa-Silva itu.

”Ini penting diketahui. Jika itu fosfin ada berarti ada kehidupan di palet itu. Dan tidak menutup kemungkinan ada banyak planet berpenghuni lain di seluruh galaksi kita,” imbuh Sousa.

Teleskop berbasis bumi seperti yang digunakan dalam penelitian ini membantu ilmuwan mempelajari kimia dan karakteristik benda langit lainnya.

Fosfin terlihat pada 20 bagian per miliar di atmosfer Venus. Greaves sendiri menjelaskan para peneliti telah memeriksa sumber non-biologis potensial seperti vulkanisme, meteorit, petir dan berbagai jenis reaksi kimia.

Tetapi tidak ada yang tampak layak. Penelitian pun terus berlanjut untuk memastikan keberadaan kehidupan atau menemukan penjelasan alternatif.

Suhu Venus di permukaan mencapai 471 derajat Celcius (880 derajat Fahrenheit), cukup panas untuk melelehkan timah.

”Saya hanya bisa berspekulasi tentang kehidupan apa yang mungkin bertahan di Venus, jika memang itu ada. Tidak ada kehidupan yang bisa bertahan di permukaan Venus, karena itu sama sekali tidak ramah, bahkan untuk biokimia yang sama sekali berbeda dari kita,” imbuh Sousa-Silva.

Baca Juga:   Anggaran Kemensos Naik 50 Persen di 2021

Tapi dahulu kala, sambung dia, Venus bisa saja memiliki kehidupan di permukaannya, sebelum efek rumah kaca yang tak terkendali membuat sebagian besar planet ini sama sekali tidak dapat dihuni.

Dari berbagai spekulasi dan temuan, pada ilmuwan menduga bahwa awan tinggi Venus, dengan suhu sedang sekitar 86 derajat Fahrenheit (30 derajat Celsius), dapat menampung mikroba udara yang dapat bertahan dalam keasaman yang ekstrim.

Awan ini mengandung sekitar 90% asam sulfat. Mikroba bumi tidak dapat bertahan dari keasaman itu.

”Jika itu mikroorganisme, mereka akan memiliki akses ke sinar matahari dan air. Dan mungkin hidup dalam tetesan cairan. Tetapi mereka membutuhkan mekanisme yang tidak diketahui untuk melindungi dari korosi oleh asam,” kata Greaves.

Di Bumi, ada mikroorganisme di lingkungan anaerobik. Ini merupakan ekosistem yang tidak bergantung pada oksigen yang menghasilkan fosfin.

Baca Juga:   Klaster Paling Dominan di Perkotaan, Warga: Entah Kapan Sadarnya!

Ini termasuk tanaman limbah, rawa, sawah, rawa, sedimen danau dan kotoran serta saluran usus banyak hewan. Fosfin juga muncul secara non-biologis dalam lingkungan industri tertentu.

Untuk menghasilkan fosfin, bakteri bumi mengambil fosfat dari mineral atau bahan biologis dan menambahkan hidrogen.

”Kami telah melakukan yang terbaik untuk menjelaskan penemuan ini tanpa memerlukan proses biologis. Dengan pengetahuan kita saat ini tentang fosfin,” jelasnya.

Venus, dan kedekatan dengan geokimia, lanjut dia, tidak dapat menjelaskan keberadaan fosfin di awan Venus tersebut.

”Itu tidak berarti adanya kebidupan. Apa yang digambarkan di Venus merupaka eksotis yang menghasilkan fosfin. Nah pemahaman kita tentang Venus perlu diperbaiki, ”kata Clara Sousa-Silva.

Sementara pesawat ruang angkasa robotik sebelumnya telah mengunjungi Venus, sebuah wahana baru mungkin diperlukan untuk memastikan kehidupan.

”Untungnya, Venus ada di sebelah. Jadi kita benar-benar bisa pergi dan memeriksanya dengan cermat beberapa fenomena yang terjadi di sana,” jelasnya. (mas/bro)

Komentar

Berita Lainnya