Dikatakan Indra, bencana pergerakan tanah di Desa Cilayung sudah terjadi sejak tahun 2021.
“Ini berarti kejadian susulan, total penurunannya permukaan tanahnya telah mencapai 50 cm,” sambungnya.
Menurutnya patut diwaspadai curah hujan yang tingginya mencapai 20-70 persen. Maka dari itu pihaknya berkoordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Cilayung, SD Cilayung, dan masyarakat menutup sementara retakan tanah, dan memasang alat pantau manual di setiap sisi retakan.
“Dengan alat pantau ini, bisa dilihat apakah ada penambahan pergeseran tanah setiap harinya, ” ujarnya.
Tak hanya itu bersama Desa Tangguh Bencana (Destana) pihaknya memantau perkembangan pergeseran tanah tersebut. (Dien)










