SIBERINDO.CO – Di bawah pendaran tata cahaya temaram, seiring ritme gamelan yang mengalun pelan bak detak jantung, sejarah Nusantara seolah kembali bernapas di atas panggung. Mahakarya seni tari kolosal “Jejak Langit di Tanah Jawa” hadir tak sekadar menyuguhkan estetika gerak, melainkan mengajak penontonnya menempuh laku spiritual yang panjang.
Melalui liukan para penari, tersaji sebuah epik tentang bagaimana Islam menyapa Tanah Jawa, bukan dengan kilatan pedang, melainkan lewat pelukan hangat toleransi, pertukaran niaga, dan akulturasi budaya yang begitu halus. Sebagaimana sebatang tunas yang ditanam dengan niat tulus, peradaban ini dirawat perlahan hingga mengakar kuat dan merimbun di bumi Nusantara.
Pertunjukan mengalir dalam tiga babak yang saling bertaut, mengilustrasikan bagaimana cahaya spiritualitas itu masuk dan berakar: dari kemegahan keraton Majapahit, persinggahan damai armada Tiongkok, hingga dakwah kultural para pendakwah lokal.
Fondasi Keterbukaan di Era Brawijaya
Kisah bermula dari sebidang “tanah subur” di era keemasan Kerajaan Hindu-Buddha, Majapahit. Lewat narasi yang menggugah, panggung membawa memori kita ke masa Prabu Brawijaya, di mana Tanah Jawa dibangun di atas keluhuran budi dan keselarasan alam.
Penari perempuan berbalut busana keraton bergerak gemulai namun memancarkan wibawa, mengisyaratkan bahwa masyarakat Jawa kala itu telah memiliki kebudayaan yang mapan. Keterbukaan pikiran dan tata krama yang menjunjung tinggi keharmonisan inilah yang kelak menjadi ladang tempat benih-benih spiritualitas baru bersemi. Islam tak datang untuk membongkar fondasi tersebut ke ruang yang kosong, melainkan menyapa peradaban agung yang telah siap menerima nilai universal tentang ketauhidan dan kesetaraan.
Layar Cheng Ho dan Syiar Jalur Sutra
Magis panggung perlahan berganti saat ketukan irama menyiratkan debur ombak samudra dan embusan angin laut. Babak ini merekam pendaratan armada raksasa Dinasti Ming di pesisir utara Jawa, di bawah komando Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Alih-alih membawa moncong meriam untuk menaklukkan layaknya bangsa kolonial, pelaut tangguh yang juga seorang Muslim taat asal Yunnan ini berlabuh membawa keramik, sutra, inovasi, dan semangat persaudaraan.
Lewat tarian yang rancak dan penuh warna, divisualisasikan bagaimana masyarakat lokal menyambut hangat para tamu dari seberang lautan ini. Secara spiritual, Cheng Ho dan pengikutnya mencontohkan syiar lewat akhlakul karimah (budi pekerti luhur). Interaksi yang terekam dalam gerak tari ini mengukir tonggak penting: syiar Islam menjejakkan kakinya di Nusantara melalui jalur peradaban, persahabatan, dan pertukaran budaya yang saling menghormati.
Lir-Ilir: Tembang Pencerahan Para Wali
Ketika kawasan pesisir telah dihangatkan oleh perniagaan dan persaudaraan, dakwah Islam meresap kian dalam ke jantung Tanah Jawa lewat sentuhan Wali Songo. Puncak keheningan spiritual dalam tarian ini pecah saat sayup-sayup terdengar tembang sakral, Lir-Ilir.
Karya monumental Sunan Kalijaga ini menjadi saksi bisu kecerdasan strategi sinkretisme dakwah para Wali. Mereka menyadari bahwa masyarakat tak bisa dipaksa menanggalkan tradisi lamanya secara frontal. Alih-alih menebang pohon tradisi yang sudah ada, para Wali menyuntikkan ruh tauhid ke dalam kesenian setempat.
Penari bergerak selaras laku tirakat, menerjemahkan lirik metaforis “Penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno”. Belimbing bersisi lima melambangkan rukun Islam dan kewajiban salat lima waktu; sebuah pesan tersirat bahwa meski jalan batin itu licin dan penuh godaan duniawi, manusia diajak terus berupaya memanjat agar jiwanya kembali suci (kanggo basuh dodotiro). Keagungan momen ini mencapai puncaknya tatkala para penari dengan penuh kekhusyukan mengiringi lantunan tauhid, “Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah”. Sebuah transisi mulus dari keraguan menuju pencerahan iman yang paripurna, tanpa mencabut masyarakat Jawa dari akar identitasnya.
Merawat Mata Air Kedamaian
Tepat sebelum panggung meredup, “Jejak Langit di Tanah Jawa” meninggalkan jejak di benak penontonnya sebagai sebuah monumen pengingat. Tarian ini secara emosional memancarkan pesan moderasi beragama yang senantiasa menjadi denyut nadi Kementerian Agama.
Sejarah masuknya agama di negeri ini adalah narasi besar tentang kelembutan yang merangkul, bukan kekerasan yang memukul. Karya seni ini menjadi cermin bagi kita semua: bahwa keberagamaan bangsa ini sejak lama telah disirami oleh mata air kedamaian dan toleransi. Tugas kita hari inipun tak ubahnya merawat pohon peradaban tersebut, membiarkannya mekar mewangi, mengaliri setiap generasi dengan pemahaman bahwa harmoni adalah anugerah terbesar bagi Indonesia.(***)










