KUPANG – Menjelang buka puasa di bulan Ramadhan, banyak warga muslim di Kota Kupang, berbondong ke arah Gereja Katedral Kristus Raja.
Mereka berburu penganan khas untuk berbuka puasa. Ya, pada bulan puasa, trotoar di depan katedral ini selalu oleh pedagang dan pembeli.
Sudah bertahun-tahun setiap Ramadhan, kawasan ini jadi semacam “Pasar Ramdhan” yang menjajakan aneka jajanan tradisional.
Beberapa di antara kue-kue itu bahkan hanya muncul di bulan Ramadhan, sehingga jadi perburuan para penyuka kuliner.
Puluhan pedagang berderet dari trotoar gereja sampai kantor Bank Mandiri. Makin sore, kian sibuk mereka melayani pembeli.
Para pedagang yang berjualan di pasar Ramadhan di trotoar gereja ini kebanyakan berasal dari kampung yang dihuni mayoritas Muslim di Kupang, seperti Kampung Solor, Bonipoi, dan Airmata.
Muslim merupakan minoritas di Nusa Tenggara Timur dan sebagian masih keturunan pendatang.
Di Kupang, umumnya mereka berasal dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Permukiman mereka dikenal sebagai Kampung Solor.
Sedangkan Airmata, adalah kampung yang namanya diambil dari sungai kecil (lebih tepat disebut kali) yang bermuara di Teluk Kupang.
Menurut cerita, daerah itu dahulu merupakan tempat pembuangan tahanan politik yanga memberontak terhadap penjajah.
Seorang pejuang asal Kalimantan, Sultan Abdurrachman Al Qadri dari Pontianak, disebut-sebut dibuang hingga wafat di Airmata ini.
Di Airmata inilah, semula, Pasar Ramadhan ini berkembang.
Pada bulan Ramadhan, warga di sekitar Mesjid Raya Baitul Qadim, Airmata, biasa menjajakan makanan di beranda atau di emperan rumah mereka.
Baitul Qadim adalah mesjid pertama (didirikan tahun tahun 1806) dan terbesar di Kota Kupang.
Pasar Ramadhan di Airmata, bukanlah pasar sebagaimana laizmnya. Pada bulan puasa, menjelang waktu buka, warga sekadar menjajakan jualannya di depan rumah mereka.
Mungkin hanya dengan memajang satu meja kecil, atau bahkan kursi, sebagai tempat kue-kue dan makanan dijajakan.
Di Pasar Ramadhan ini, warga bisa menemukan makanan yang termasuk langka ditemui dalam keseharian. Ada kalesong, lopis, dan serabi kua. Atau, kue bendera, dan bajongko.
Belakangan, sudah banyak orang menggunakan gerobak dorong, dan lokasi penjualan meluas ke tepi jalan raya depan kediaman Wali Kota, dan kini meluas sampai ke sekitar Gereja Katedral.
Seorang pedagang mengaku pasar Ramadhan di sekitar katedral sudah mendapatkan persetujuan pihak Gereja dan Wali Kota Kupang.
Pengurus Gereja Katedral Kristus Raja pun mengatakan, komunikasi dengan pedagang berlangsung baik, dan tidak menganggu aktivitas gereja.
“Kebaktian terus berjalan. Malah jemaat kami juga ikut belanja makanan di pasar Ramadan, ketika pulang gereja,” kata seorang pengurus gereja.
Dia mengatakan toleransi antar umat beragama di Kupang sangat baik dan saling membantu.
“Mereka sering jualan di sini, kami beli, makan bersama dan sudah bertahun-tahun itu berlangsung,” tambahnya.
Para jemaat yang pada hari-hari selain Ramadhan, biasa parkir di sekitar gereja pun tak keberatan parkir agak jauh, karena lokasinya jadi tempat para pedagang.
“Puji Tuhan, aman. Masalah toleransi di Kupang cukup baik. Terlalu bagus, malah,“ kata seorang pedagang asal Bonipoi, Kupang.
Dalam dialek setempat, “terlalu bagus” itu berarti sangat baik. Sama seperti kata “terlalu enak” yang berarti sangat enak. (*)











Komentar