BANDUNG – Memasuki kemarau panjang, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan 10 kolam retensi yang berfungsi sebagai cadangan air saat kekeringan sekaligus mencegah Banjir manakala musim berganti yang ditandai dengan turunnya hujan dalam skala tinggi dan terus menerus.
Kolam ke-10 telah dibangun di Kecamatan Babakan Ciparay, Kabupaten Bandung menghabiskan dana Rp175 juta dengan luas keseluruhan mencapai 1.767 meter persegi: 179 meter persegi untuk kolam yang bisa menampung 716 meter kubik air, dikelilingi 75 pohon pelindung,
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDAs BM) Kota Bandung Didi Ruswandi mengatakan dipilihnya lokasi kolam retensi di Kecamatan Babakan Ciparay ini, karena daerah tersebut sebelumnya masih menampung genangan air saat musim hujan.
“Lokasi kolam retensi di sini merupakan daerah yang rendah. Jadi, tepat untuk dibangun kolam retensi,” kata Didi saat meresmikan kolam retensi di Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Rabu.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Bandung Eric M Attauriq mengatakan kehadiran kolam retensi ini saat musim kemarau merupakan hal yang tepat sebelum musim hujan datang.
“Momentum musim kemarau saat ini tepat untuk membangun kolam retensi,” kata Eric.
Dia menambahkan bahwa pada tahun 2023 Pemkot Bandung akan menuntaskan dua kolam retensi lagi, yakni di Kelurahan Derwati dan Kelurahan Sekejati.
Menurut dia, kolam retensi merupakan upaya Pemkot Bandung dalam menghadapi kemungkinan kekeringan imbas dari El Nino saat ini.
“El Nino sekarang menjadi periode terpanas yang akan berlangsung sampai pertengahan tahun 2024. Kita sudah membuat kolam retensi untuk mencegah bencana,” katanya.
Dengan hadirnya kolam retensi, kata dia, diharapkan bisa berfungsi sebagai area publik dan spot wisata bagi warga sekitar, selain fungsi utamanya sebagai konservasi air dan cadangan air saat masa kritis. (*)










