JEMBER–Sebanyak 11 orang anggota padepokan di kota Jember tewas terseret ombak Pantai Payangan. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot R Handoko mengatakan berdasarkan keterangan yang digali dari korban selamat, ritual yang diadakan di pantai yang terletak di Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember tersebut awalnya diikuti 24 orang.
“Terkait adanya kejadian kelompok padepokan salah satu padepokan yang ada di Jember di Pantai Payangan itu, 11 orang meninnggal, tiga orang masih kritis dari 12 orang yang selamat,” kata Gatot seperti yang dikutip Hops.ID dari kanal Youtube metrotvnews pada Minggu (13/2/2022).
Semua korban selamat yang tidak perlu perawatan di rumah sakit sudah dikembalikan ke keluarga masing-masing.
Kronologi kejadian
Gatot juga mengungkapkan, semua korban awalnya diketahui berniat mengikuti ritual semedi di pantai.
Ritual ini diadakan Padepokan Tunggal Jati Nusantara dimulai pukul 01.30 WIB dinihari.
”Sebelumnya memang sudah diingatkan tapi kelompok tersebut masih melakukan upaya ritual dengan cara bersemedi di pantai itu, akhirnya ada yang terseret ombak,” katanya.
Setelah beberapa di antaranya terseret ombak, para korban kemudian melapor ke aparat kepolisan dan Tim SAR sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah tim evakuasi dan penyelamat turun ke lapangan, ditemukan 11 orang tewas, dan 12 selamat serta satu orang masih dinyatakan hilang.
Saat siang hari, baru diinfokan ditemukan kembali satu orang korban yang sebelumnya sempat hilang. Korban masih tersangkut di dekat tebing. Polisi masih belum mengetahui kondisi terkini dari korban tersebut.
Semedi di pantai jadi tradisi beberapa padepokan
Dia mengungkap dari info yang didapatkan kelompok tersebut memang sering melakukan ritual serupa.
”Ada beberapa rangkaian kegiatan agama dan lain-lain. Ini adalah salah satu bagian dari ritual seperti bersemedi di Pantai Selatan tersebut. Jadi seperti bersila kemudian duduk di pinggir pantainya,” jelasnya.
Dia menyebut ada beberapa padepokan lain yang melakukan kegiatan ritual di pantai. “Ini memang tradisi dan sering terjadi atau dilakukan di Pantai Payangan,” imbuhnya.
Gatot mengaku jika pihaknya sudah sering memberikan info dan peringatan melalui Babin Kamtibmas dan Babinsa terkait adanya informasi dari BMKG, bahwa ada cuaca yang sangat ekstrem khususnya di Pantai Selatan.
Namun, sayang beberapa anggota mayarakat khususnya yang berasal dari padepokan, memilih untuk tidak menghiraukan peringatan tersebut. Alasannya karena ritual harus dilakukan pada saat yang sudah ditentukan.
“Ini sudah seringkali diinfokan kepada anggota masyarakat supaya lebih berhati-hati. Nanti khususnya di padepokan ini akan kami ingatkan terus untuk tidak melakukan ritual-ritual yang mengabaikan faktor cuaca ini,” jelasnya.
Gatot menjelaskan jika memang ada beberapa padepokan yang sudah mengerti dengan informasi terkait cuaca ekstrem yang diberikan pihak kepolisian.
“Namun, tetap ada tradisi-tradisi dari beberapa kelompok yang mungkin masih mengabaikan peringatan atau imbauan yang kami berikan,” tandasnya.
Aparat di masa mendatang, terlebih setelah insiden ini bertekad akan terus mematuhi mbauan agar kegiatan ritual-ritual ditiadakan terlebih dahulu.
“Karena faktor cuaca yang mungkin sangat berbahaya bagi kelompok padepokan tersebut apabila melakukan kegiatan,” jelasnya. (*)








