oleh

Serap Energi Covid-19, Kelompok UnTie Gelar Pameran Seni Rupa Virtual ‘11.11.20 di Era Pandemi’

JAKARTA – Tidak ingin mati berkarya karena Covid-19, dan justru ingin menyerap semangat dari pandemi, Kelompok UnTie yang terdiri dari Agussis, Rudy Tulang, dan Iwhan Gimbal menggelar pameran seni rupa virtual bertajuk “11.11.20 di Era Pandemi” di rumahgaleri.com, sebuah ruang galeri virtual dengan fitur jelajah mandiri.

Dikutip dari katalog pameran, 11 November 2020 adalah tonggak baru kelompok UnTie untuk melakukan proses berkarya. Kelompok UnTie sendiri adalah sebuah kelompok bebas, tidak terikat, dan tidak melembaga. Seperti arti harafiah itu sendiri. Kemunculannya pun secara tidak disengaja. Kelompok UnTie ini bisa berubah-ubah senimannya, bisa bertambah dan bisa berkurang.

“Kami tidak ingin Covid-19 ini mematikan semangat berkarya. Pandemi ini justru harus dijadikan sebagai penyemangat hidup dan terus tetap berkarya. UnTie harus memaknai pandemi ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari kebangkitan kami para seniman”.

Dalam pameran ini, Agussis menampilkan 20 lukisan yang berhubungan dengan dunia nyata. Obyek tersebut ia lihat dari televisi, media massa, media sosial bahkan langsung dengan pandangan mata. Semua itu ia rekam lalu ditumpahkan kedalam kanvas.

“Pandemi ini membuat semua orang berfikir keras untuk bertahan hidup tak terkecuali di semua negara. Apa yang saat ini aku rasakan aku lihat dan dengar aku curahkan ke kanvas menjadi bentuk kubisme naivistik dan mendeformasi dari pendekatan bentuk nyata ke bentuk yang kubistik, terkadang juga naivistik menyerupai bentuk visual kekanak-kanakan, kedua bentuk ini aku tekuni,” kata Agussis.

Begitu juga Iwhan Gimbal, 11 karya yang dipamerkan bersumber dari datangnya pandemi covid-19. Ada satu karya awal yang berjudul “Tawaf“ dibuat sebelum pandemi merajalalela di Indonesia. Lukisan yang masih tertata dan terlihat pusaran orang-orang mengitari ka’bah, khusuk dan normal-normal saja. Kemudian ramailah berita tentang wabah Covid-19 menyebar di hampir semua negara tanpa ampun menumbangkan banyak manusia.

Ini cerita dari lukisan kedua yg dipamerkan dengan judul “serial biru” empat rangkaian lukisan dimana dalam satu frame ada 4 kanvas yang disatukan, frame 1,2 dan 3 visual manusia di kehidupan normal di frame ke 4 meledaklah pandemi dengan divisualkan gunung berapi yang meletus. “Dan ternyata dampaknya (pandemi) jauh lebih buruk dari letusan gunung berapi,” kata Iwhan.

Dalam kondisi serba terbatas, hampir 6 bulan di dalam rumah. Jenuh, marah, gundah-gulana bercampur aduk. Karena keterbatasan ini muncullah ide menggunakan majalah bekas yang menumpuk di rumah.

“7 lukisan yang dipamerkan terbuat dari bahan majalah bekas kolase. Kegundahan kekacau teracuni oleh berita covid di Tv, online, sosmed semua covid, covid dan covid. Saat itu melukis mengalir saja dan jauh dari kehati-hatianku. Dua karya tanpa judul: untitled #1 dan untitled #2 mengambarkan kekacauan ini sampai tak tahu harus memberinya judul apa,” jelas Iwhan.

Kemudian Rudy Tulang menampilkan 11 karya eksperimen terhadap diri sendiri secara visual. “Walaupun ini adalah tentang bagaimana saya kembali mengingat dan meresapi dari apa yang mempengaruhi diri saya sampai sedemikian pada hari ini. Bahwa ini merupakan signal-signal pada tubuh untuk bersikap, untuk merespon yang terjadi pada diri saya. Sebagaimana sebuah peringatan pada tubuh untuk bagaimana bersikap yang saya ungkapkan secara goblok-goblokan dalam bentuk-bentuk visual,” jelasnya.

Menurut kurator pameran Prof. Narsen Afatara, ketiga perupa yang dilahirkan di kota Solo tersebut dibesarkan di suatu kawah, suatu area dimana mereka mendapat tekanan dan pujian sedemikian besar dan sedemikian derasnya.

“Tentu saja ada perbedaan di masing-masing seniman dengan keunikannya sendiri-sendiri. Keunikan berbagai dimensi, dimensi produksifitas, dimensi yang bekerja di lab terus-menerus dan dimensi yang terakhir mengenalkan karya sebagai tanggung jawab sosial perupa,” tuturnya.

Menurut Prof. Narsen, ketiga pelukis memiliki aliran yang berbeda jika Rudi dan Iwhan banyak bersinggungan dengan seni grafis maka Agussis bergerak di seni murni dan banyak menggunakan imajinasi dan fantasinya.

Agussis di lab menangkap kehidupan di kampungnya Solo sementara perupa Rudi dengan fotografinya dan Iwhan Gimbal dengan lingkungan grafisnya. Menurut Prof. Narsen sekaranglah titik ketiga perupa ini untuk memunculkan art yang mengandung masalah-masalah kemanusiaan global.

Sementara itu, Pustanto Kepala Galeri Nasional Indonesia mengaku kagum pada kelompok trio perupa UnTie yang melihat pandemi yang dianggap sebagai bencana bagi banyak orang, justru dianggap sebagai awal kebangkitan para seniman.

“Hal lainnya yang membuat saya terkesan, kelompok ini mampu cepat beradaptasi dengan keadaan saat ini yang sedang dilanda pandemi, melalui pemilihan media pameran yang menggunakan teknologi 360 derajat. Hal ini menunjukkan kemampuan bereksplorasi, daya kreativitas, kesungguhan, sekaligus dedikasi di jalan yang telah mereka pilih yaitu seni rupa,” tuturnya.

Sebagai rekan yang sama-sama berasal dari Solo, lanjutnya, dia merasa bangga terhadap trio perupa UnTie yang meski telah menekuni profesi masing-masing dan tinggal di kota yang berlainan, namun tetap menjadikan Solo sebagai tautan yang mengikat mereka untuk berkarya.

Menurut Pustanto ketiga perupa UnTie memilih jalan keseniannya di bidang seni rupa, yang melalui karya-karya kontemporernya turut berkontribusi dalam mengisi, mengembangkan, serta memajukan seni rupa Indonesia. (bas)

Komentar

Berita Lainnya