JAKARTA – Cuplikan video kegiatan di Badan Intelijen Negara (BIN) pada 10 September 2020 yang videonya diunggah oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo di akun Instagram pribadinya, merupakan demo keterampilan dari para agen atau siswa Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), bukan pasukan khusus.
Penegasan ini menjadi klarifikasi dari sekian banyak informasi sumir yang menyebutkan BIN membentuk pasukan khusus. Penegasan ini pun disampaikan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Dr Evita Nursanty.
”Informasi yang menyebut BIN membentuk pasukan khusus adalah informasi yang tidak benar. Saya yakin 100 persen, tidak ada pasukan khusus. Itu salah pengertian saja,” terang Evita dalam pernyataan tertulis, di Jakarta, Sabtu (12/9).
Siswa STIN memang dilatih dengan sangat terampil, misalnya ahli pencak silat, karate, ahli siber, dan soft skill lainnya yang diperlukan kelak ketika mereka terjun di lapangan.
”Jadi, keahlian itulah yang dipertunjukkan sebagai bagian dari ceremony, bukan membuat pasukan khusus,” imbuhnya.
Indonesia memang membutuhkan siswa STIN yang terampil karena mereka sumber utama SDM BIN sesuai UU Intelijen.
”Coba lihat juga di film-film itu, bagaimana anggota CIA, FBI atau badan intelijen lain punya keterampilan khusus ketika mereka bertugas misalnya dalam penyusupan ke komunitas apapun,” imbuhnya.
Evita juga menyambut sangat baik pengembangan program studi baru di STIN seperti Intelijen Medik, kemudian Intelijen Cyber, S2 Intelijen Ekonomi maupun S3 Ilmu Intelijen Strategis.
”Pembaruan dan modernisasi untuk mewujudkan STIM sebagai kampus bertaraf internasional, memberikan kemampuan menghadapi tantangan dan ancaman NKRI,” tegas Evita. (oke/beb)











Komentar