PANGKALAN BUN–Musim kemarau acap jadi masa-masa gawat bagi kasus kebakaran hutan di Kotawaringin Barat (Kobar), KalimantanTengah. Seluas 6 hektare hutan dan lahan tandus sudah terbakar.
Selain titik panas, hal yang patut dipantau adalah luasan area kebakaran. Beberapa daerah di Kobar selama Pandemi Covid-19 telah menunjukkan peningkatan area terbakar.
Kobaran api yang membakar kawasan hutan dan lahan di pesisir Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) membuat sejumlah masyarakat panik, Rabu (11/8/2021).
Kebakaran di tengah teriknya sinar matahari tersebut terjadi di Desa Sungai Bakau, tepatnya sekitar 300 meter dari permukiman pensetempat.
Mengingat bahwa kobaran api begitu besar warga khawatir api akan meluas ke perumahan penduduk.
Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, bersama dengan Manggala Agni, MPA Kumai, Tagana, TNI dan Polri, serta Damkar Kobar segera turun ke lokasi dengan mengerahkan tiga unit tangki suplai dan belasan roll selang pengantar air.
Besarnya kobaran api membuat satgas darat kewalahan, tiga unit water suplai dengan kapasitas ribuan liter air tidak mampu menjinakkan si jago merah.
Tim Karhutla, terpaksa harus putar arah menuju laut untuk mengambil air dan kembali mengguyur kobaran api.
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan, BPBD Kobar Martogi Siallagan mengatakan, bahwa diduga sumber api kebakaran hutan dan lahan tersebut disebabkan oleh aktifitas pembukaan lahan.
“Kendala yang kita temui saat proses penanganan tersebut adalah minimnya sumber air,” kata Martogi.
Sehingga, praktis hanya mengandalkan dari tangki water suplai, ditambah hembusan angin yang kencang, ujarnya.
Ia menyebut dalam kebakaran tersebut, lahan berupa hutan dan kebun masyarakat yang terbakar total luasannya mencapai 6 hektar. (Yus)











Komentar