oleh

Kemen PPPA Sebut Sinergi dengan Media Massa Adalah Solusi Masalah UMKM

JAKARTA – Pandemi Covid-19 berdampak signifikan ke para pelaku usaha Menengah mikro dan kecil. 50 persen pengelola UMKM di Indonesia adalah perempuan. Saat ini penjualan UMKM anjlok, bahan baku jadi sulit dan distribusi terhambat serta produksi pun menurun. Penjualan secara online dinilai merupakan salah satu alternatif solusi meningkatkan penjualan hasil produksi di masa pandemi ini dan peran media massa diminta menjadi solusi bagi para pelaku UMKM.

“Dengan permasalahan yang dialami perempuan pelaku usaha selama pandemi, sebaiknya kita menerapkan sinergi dengan melibatkan 5 pihak terkait, yakni pemerintah, lembaga masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media massa. Tujuannya, agar dapat solusi dan mendongkrak semangat bagi para pelaku usaha perempuan selama pandemi ini,” tutur kata Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Agustina Erni dalam serial webinar.

webinar Perempuan Pelaku Usaha Mikro Kecil, Inovasi di Masa Pandemi Covid-19 ini digelar Kemen PPPA bersama dengan Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) dalam rangka menyambut Peringatan Hari Ibu (PHI) 2020 (10/9).

Kata Agustina Erni, semua pihak harus bersama-sama memetakan dan menyinergikan teknologi dan keahlian yang dibutuhkan. Teknologi mampu dijadikan sebagai sebuah solusi dan inovasi bagi suatu permasalahan, misalnya untuk merespon kelangkaan bahan baku. Penjualan secara online juga merupakan salah satu alternatif solusi untuk meningkatkan penjualan hasil produksi di masa pandemi.

Dari data UKM Indonesia pada 2020, para pelaku usaha yang masih bertahan dan bahkan mengalami peningkatan omset adalah mereka yang menggunakan metode usaha online. Tentu peran media massa online di sini sangat penting.

Erni berharap ke depan pelatihan online bagi perempuan pelaku usaha, baik pelatihan terkait pemasaran, proses produksi, dan lain-lain semakin diperluas jangkauannya. Namun, permasalahan sarana juga menjadi penting, di antaranya ketersediaan sinyal dan gawai.

Erni berharap Dinas PPPA di daerah dapat melakukan pemetaan terkait perempuan pelaku usaha yang ingin berpartisipasi mengikuti pelatihan online.

Sementara itu Deputi Direktur Pengorganisasian Komunitas PEKKA, Romlawati mengapresiasi kerja sama yang telah dilakukan Kemen PPPA dan PT XL Axiata terkait peluncuran Kelas Inkubasi Sispreneur yang ditujukan bagi kalangan perempuan pelaku usaha mikro.

“Kelas Inkubasi Sispreneur bermanfaat karena pelaku usaha perempuan diberikan pendampingan dan pelatihan intensif.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kab.Rembang, Prov. Jawa Tengah, Sri Wahyuni sepakat bahwa pengembangan Industri Rumahan (IR) tidak terlepas dari peran dan sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan akademisi dan Media massa. Hal tersebut terbukti hingga saat ini, setelah dilakukan piloting Industri Rumahan (IR) di Pasar Banggi dan Tritunggal, Kabupaten Rembang berhasil mereplikasi IR di 35 desa.

Pelaku Industri Rumahan Usaha Olahan Makanan di kabupaten Rembang, Eko Purwati mengatakan, di awal pandemi, pesanan hasil produksi rengginangnya menurun. Namun, para pendamping IR selalu memberikan motivasi dan menginisiasi pelatihan pembuatan masker dan face shield yang akhirnya dapat diproduksi. Di samping itu, dengan bantuan pemerintah daerah yang memasarkan hasil produksinya, akhirnya hasil produksi rengginang Eko Purwati mendapat beberapa pesanan kembali.(*/arl)

Komentar

Berita Lainnya