oleh

Kampanyekan Penyengat Sebagai Pusat Kajian Budaya dan Sastra Indonesia

Oleh: Devi Yanti Nur, SP PSPA Dharma Seribu Pulau), Kota Tanjungpinang- Propinsi Kepulauan Riau

Latar belakang

LEMBAGA pendidikan dari zaman dahulu hingga sekarang memang menjadi sarana ampuh untuk melestarikan bahasa dan ilmu pengetahuan. Semakin maju sebuah bangsa maka akan semakin kuat perhatian pemangku kebijakan untuk mengembangkan lembaga pendidikan.

Selain berfungsi penting bisa mencetak generasi penerus saja, meningkatkan kemampuan, keterampilan dan intelektual suatu bangsa. Kehadiran lembaga pendidikan juga dianggap sarana vital kemajuan sebuah bangsa, terus memperkokoh visi bangsa serta melanggengkan bahasa bangsa tersebut.

Lembaga kajian juga sebagai muara segala kisah perjuangan dan ilmu dan perjalanan kesusastraan nasional, muncul para sastrawa budaya, tatanan kebudayaan bisa disajikan dari masa kemasa, hingga akhirnya sejarah itu lestari zaman ke zaman. Yang penting lagi jika budaya itu sangat dipegang maka indentitas suatu bangsa akan kuat dan menjadi pondasi pembangunan negri.

Keinginannya Pahlawan Nasional kita di Negri gurindam yakni Raja Ali Haji, bertekad kuat untuk menyatukan bangsa dan melestarikan bahasa dengan kesatuan bahasa yakni bahasa melayu, sebagai bahasa pemersatu seluruh kerajaan di Tanah Air, Beliau bisa menjadikan pulau kecil, Pulau Penyengat jadi pusat pengembangan dan persatuan Bahasa Melayu. Berakhir dengan Bahasa Melayu dipakai sebagai akar bahasa Indonesia.

Tulisan ini hanya sebagian kecil dari kumpulan kisah perjuangan pahlawan nasional Raja Ali Haji dikisahkan oleh beberapa penulis tentang perjuangan beliau, sangat ingin menyatukan kerajaan di Indonesia.

Dikutip dari Channel Ojun film Pendek Karya Rama Prihandana dan rekan dari Fakultas Design Seni dan Sastra Institut teknologi Nasional (ITENAS) yang berjudul :Raja Ali haji Perancang Asal Usul Bahasa Indonesia tayang dari 6 Tahun Lalu.

)

Dalam Film pendek ini sedikit mengupas sejarah bahwa Nusantara sudah menggunakan Bahasa Melayu sejak abad ke 14, diawali dengan bahasa Melayu sebagai sarana komunikasi di dalam berdagang.

Pada zaman itu Melaka adalah sebagai pusat kesusteraan melayu, ilmu menulis dan terasul diajarkan, menjadi jadi awal kepandaian berbahasa melayu dan kebudayaan melayu.

Dikisahkan perjalanan bahasa Melayu diawali dari perjalanan 5 oppu bersaudara ke kerajaan Malaka, dari 5 Oppu bersaudara yang ingin mencari wilayah kekuasaan baru, setelah berlayar di sepanjang pulau di Nusantara, maka mendaratlah di Malaka. Di Malaka Oppu 5 bersaudara menikahlah dengan anak anak pejabat teras kesultanan Malaka. Dan diantara mereka mendapat daerah kekuasaan di Daerah Tanjungpinang Kepulauan Riau.

Puncak Kejayaan Kerajaan Riau Lingga dibawah kepemimpinan Raja Haji sebagai Raja Muda Riau Haji IV Tahun 1777.

Dimasa ini Tanjungpinang tumbuh menjadi pusat perdagangan yang pesat. Riau menjadi bandar yang maju dari segi ekonomi, militer dan pusat berkembangnya ilmu pengetahuan. Sehingga banyak didatangi oleh orang luar daerah bahkan seluruh penjuru negri,baik berniat yang mau belajar dan berdagang bahkan belajar ilmu agama atau ilmu tauhid dan ilmu tulis menulis.

Kegiatan kesusastraan menjadi bagian penting dalam kebudayaan melayu, Raja Haji adalah seorang sastrawan melayu yang memiliki kemampuan berbahasa, dengan kemampuannya beliau sering menjadi diplomasi untuk bekerjasama dengan raja raja di nusantara. Hal ini dianggap VOC sebaga ancaman, dimana dengan kemampuan Raja  Haji  akan menyatukan kerajaan kerajaan senusantara kala itu.

Masjid Penyengat di masanya sangat banyak dikunjungi untuk mendalami ilmu agama dan sastra melayu.

Maka pada Tahun 1783 terjadilah pertempuran antara VOC dan Kerajaan Riau di Selat Lingga. Raja Haji memimpin langsung pertempuran tersebut. Kemudian di Tahun 1784 kembali terjadi pertempuran berikutnya di selat Ketapang dalam pertempuran ini Raja Haji Tewas tertembak.

Setelah Kematiannya Raja Haji, membuat Kerajaan Riau Lingga tidak lagi menjadi kerajaan yang merdeka, segala urusan pemerintahan di atur oleh pihak VOC.

Pihak VOC membuat Kontrak Politik dengan Kerajaan Riau Lingga saat itu yang memuat aturan bahwa segala urusan pemerintahan diatur oleh Belanda. Ditahun 1874 masa pemerintahan Kolonial Belanda pusat pemerintahan Kerajaan Riau Lingga dari Istana Kota Piring Tanjungpinang dipindahkan ke Pulau Kecil Penyengat. Pada Tahun 1872 sejak saat itu seorang raja yang memimpin harus miliki kemampuan berbahasa.

Pada saat itu Kesultanan Riau Lingga miliki seorang putra negri yang miliki kemampuan bahasa yang sangat mumpuni, yakni Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji (RAH) lahir pada tahun 1808 di Pulau Penyengat, Riau. Ayahanda bernama Raja Ahmad, Ayahnya adalah orang pertama yang mengajari pendidikan dasar. RAH juga mendapatkan pendidikan dari lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Dia termasuk orang pertama yang dapat bersentuhan dengan pendidikan bidang agama, bahasa, dan sastra. RAH juga mendapatkan pendidikan dari luar lingkungan kesultanan. Tak banyak kala itu orang tertarik ilmu bahasa dan kesustraan. Dari Kecil Raja Ali Haji memperlihatkan ketertarikannya dalam mendalami ilmu sastra dan budaya Melayu.

Bahkan di Tahun 1822 Raja Ali Haji kecil sudah sering dibawa ayahnya Raja Akhmad ikut menjadi diplomati. Kepintarannya berdiplomasi ditunjukan saat pertemuan Kerajaan Riau Lingga dengan Kerajaan Betawi. Membuatnya sering bertemu dengan petinggi Hindia Belanda yang mahir berbahasa Melayu. Tahun 1830 Raja Ali Haji bersama sang ayah, ia pergi Ke Mekkah, selama 2 Tahun, ia mendalami ilmu agama dan belajar ilmu tasauf. Dan perjalanan inilah yang akan mewarnai karya karya sastra Raja Ali haji. Tak lama beliau melahirkan Gurindam 12 yang dikenal saat ini..

Gurindam 12 yang kaya akan makna tasawuf, sepulangnya ke Pulau Penyengat, membuat Pulau ini kembali menjadi Bandar yang ramai. Seluruh penjuru negri juga kembali ke pulau penyengat untuk berdagang dan belajar ilmu agama.

Namun Raja Ali Haji juga memperhatikan perpolitikan Riau, dimana Inggris dan Belanda membagi kekuasaan. Riau Lingga di bawah kekuasaan Hindia Belanda, dan menjadikan Bahasa Melayu dijadikan bahasa sehari hari. Namun Tumasik dan Malaka dijadikan kekuasaan Inggris. Perkembangan Tumasik sangatlah pesat, sedikit demi sedikit bahasa melayu mulai tergerus dengan bahasa inggris.

Perkembangan gerakan westernisasi membuat Raja Ali Haji berpikir keras, dan kekhawatiran akan melestarikan bahasa melayu bahwa akan terjadi masa kehilangan akan tata bahasa dan sastra bahasa melayu. Ia mulai berpikir untuk mendirikan lembaga pendidikan dan percetakan. Dengan melahirkan alkitab bustan alkatibin. sejenis ensiklopedis tata bahasa Melayu, sekalian menjawab kekhawatiran orang Melayu untuk melestarikan bahasa Melayu.

Nampak dari latar belakang disini Kota Tanjungpinang dan Pulau Penyengat adalah sebuah lokasi sejarah perkembangan peradaban dan bahasa melayu. Diawali dari suasana kerajaan, hingga perdagangan, kemudian masuk colonial serta perubahan dimasa era kolonilal. Meski tak digambarkan secara gambling apakah ada lembaga pendidikan atau semacam sekolah sastra didirikan di 4 masa itu, sebagai hulunya pencetak sastrawan melayu, namun dari sejarah jelas Kota GURINDAM saat ini ramai karena aktivitas dagang dan belajar.

Kemudian juga dikisahkan akhirnya untuk memutus mata rantai westernisasi yang akan menenggelamkan kesustraan dan tatanan bahasa Melayu, maka Raja Ali Haji juga mengusulkan kepada Raja muda yang dipertuan kerajaan riau lingga untuk mengeluarkan dana yang besar untuk mendirikan lembaga pendidikan dan percetakan, agar bisa menampung orang-orang yang akan belajar bahasa melayu, bukan itu saja, utamanya melahirkan sastrawan sastrawan melayu dan melestarikan bahasa. Namanya

Masa itu Raja Ali Haji juga membangun persatuan sastrawan se Asia Tenggara namanya Rusidiah Klab awal tahun 1900an, sebuah klab membangun kebersamaan sarana pemerataan bahasa dan pelestarian bahasa melayu, Rusidiah Klab bergerak dibidang budaya dan kesustraan. Mendirikan sebuah Percetakan Almadiah Press Di Tumasik hadir sebagai percetakan mencetak buku buku keseragaman bahasa.

Sejumlah 1300 Bahasa Melayu adalah bahasa yang dipakai orang nusantara, perubahan pengucapan, penulisan dan pergeseran makna terus terjadi namun tetap berakar pada bahasa Melayu. Bahasa Melayu adalah Akar Bahasa Indonesia

Hingga pada masa kongres pemuda yang melahirkan sumpah pemuda 27-28 oktober 1928, melahirkan 3 Sumpah yang menorehkan kesatuan dan keseragaman bahasa. Perubahan ejaan juga terjadi seperti teks dibawah ini:

Dalam perjalanannya akar bahasa Indonesia adalah bahasa melayu, ejaan van hoveisyen 1876-19 adalah ejaan melayu yang juga dikuasai oleh kaum hindia belanda. Ejaan Suwndi 1947-1971 terpakai pada Ejaan Yang Disempurnakan pada Tahun 1972- Hingga kini..

Perjuangan panjang Raja Ali Haji kini berakhir, namun nafas perjuangan yang meski dilanjutkan. Peleburan bahasa juga tetap terjadi sering perkembangan zaman, bahasa dunia, bahasa Inggris saat ini memang mendominasi, namun kita sebagai anak bangsa meski memperjuangkan atau mewariskan akar bahasa dan sejarah kesustraan kita tak hilang begitu saja.

Kalau diteliti perjalanan akar bahasa Melayu dapat menyatukan Asia Tenggara dari beberapa penelitian menyimpulkan bahasa Melayu bukan saja Induk Bahasa Indonesia namun juga Bahasa Asia Tenggara, Bahwa Bahasa Melayu juga dipakai oleh Thailand. . Malah pada abad ke-20 telah melahirkan empat buah bahasa negara, yaitu bahasa Indonesia di negara Republik Indonesia, bahasa Malaysia di Kerajaan Malaysia, bahasa Brunei di Kesultanan Brunei Darussalam, dan bahasa Melayu Singapura di Republik Singapura.

Mohd. Zamberi (1994:243) menyatakan bahwa bahasa Melayu Patani telah menjadi bahasa ilmu, dan berjaya meletakkan Patani sebagai pusat tamadun kesusasteraan Melayu Perkembangannya juga sejalan dengan perkembangan Islam menerusi penghasilan karya kitab-kitab agama oleh para ulama.

Dalam Haliadi, seorang peneliti dari Program Studi Sejarah FKIP UNTAD, Peneliti Senior di Pusat Penelitian Sejarah LPPM UNTAD dalam jurnal menuliskan penelitian berjudul Yodo Rajalangi dan Perkembangan Bahasa Melayu di Tavaeli Palu

Memuat Penggunaan bahasa Melayu di Tavaeli Palu diperkenalkan oleh seorang ulama yang bernama Yodo Rajalangi. Namun, sebelumnya ada seorang tokoh ulama yang bernama Pue Bulangisi telah juga mengenalkan bahasa Arab Melayu. Kedua tokoh ulama ini berasal dari Mandar. Bahwa Masa Raja Daesalemba (1605-1667). Sementara ulama Yodo Rajalangi adalah peletak dasar penggunaan aksara Melayu atau Bahasa Melayu di Tavaeli Palu Sulawesi Tengah pada masa Raja Yangge Bodu (1800-1900).

Di lain hal juga Abdul Malik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH)Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Indonesia, dalam makalahnya berjudul Sejarah Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Ilmiah

Disampaikan saat kongres Bahasa Indonesia bahasa Melayu pada tahun 2015 menyebutkan bahwa bahasa Melayu sebagai lingua franca juga dipergunakan oleh negara negara maju dijajaran Eropa.

Namun semua kajian Ilmiah dan kajian penelitian, serta perjuangan Raja Ali Haji telah menggariskan bahwa :

  1. Bahasa Melayu adalah bahasa Induk, dari Bahasa di Indonesia dan dunia.
  2. Perkembangan Bahasa Melayu sejalan dengan perkembangan Islam dan perkembangan Perdagangan sehingga dibawa ke mana saja bisa menyatukan hati manusia.
  3. Pelestarian kesustraan dan tatanan bahasa, dari dialek dan baca tulis terus mengalami pergeseran, di zaman ini, sudahlah waktunya kita memikirkan bagaimana warisan dan perjuangan Raja Ali Haji yang sudah mewariskan bahasa Melayu menjadi Bahasa Persatuan ini bisa dilestarikan, dikembangan, bukan hanya kenangan dengan mengembangkan lembaga pendidikan kesustraan adat dan budaya serta bahasa di Kota Gurindam.

Adalah sebuah tanggung jawab moral kita saat ini bagaimana jasa Raja Ali Haji bisa diteruskan, yakni dengan sedikit meniru gerakan beliau, mengaktifkan kembali lembaga pendidikan dan kajian bahasa Melayu, dan keterkaitan sisi lain, sentra bahasa melayu itu bisa dikembalikan di Pulau Penyengat, keinginan para penyair, kesustraan sastrawan Melayu dari berbagai negri bisa kembali datang berkunjung ke Penyengat untuk mendalami Ilmu Sastra dan Ilmu Agama.

Kejayaan Penyengat akan bisa kembali, orang akan berkunjung dengan ramai jika mereka niatnya mencari ilmu, seketika kita sebagai warga Tanjungpinang khususnya secara langsung maupun tidak bisa memberikan sedikit rasa terimakasih atas perjuangan Raja Ali Haji untuk membangun kembali lembaga pendidikan bagi peminat peminat yang bisa mendalami agama, dan sastra melayu hingga tak melayu hilang di bumi.

Disisi lain, Bangsa Indonesia sebagai bangsa besar memiliki lokasi perkembangan dan pusat kajian bahasa di penyengat, kondisi hari inilah meski dibenahi oleh semua pihak agar tujuan ini benar benar ujud. ()

Berita Lainnya