oleh

Tangkapan Cacing Laut Melimpah, Warga dan Pemerintah Desa Nilai Pertanda Baik

PRAYA – Tangkapan cacing laut di sepanjang pantai wilayah selatan Lombok Tengah melimpah. Warga dan pemerintah desa menilai itu pertanda baik. Hasil produksi pertanian akan melimpah. Baik padi maupun tanaman palawija. Kemudian bencana non-alam Covid-19 akan berakhir.

“Inilah hasil tangkapan saya dari Pantai Seger,” kata Usman, warga Dusun Tajuk, Desa Sengkol pada Lombok Post, Kamis (4/3/2021).

Nyale –bahasa setempat untuk cacing laut– hasil tangkapannya itu kemudian dipepes dan dipanggang. Lalu akan disantap bersama keluarga. “Walau jumlah pengunjung dibatasi, tapi tradisi bau nyale tetap meriah,” tandas Kepala Desa Kuta Mirate, terpisah.

Kata dia, pusat bau nyale tetap dilaksanakan di Pantai Seger. Karena konon, di tempat itulah sosok Putri Mandalika menceburkan diri ke laut, hingga berubah wujud menjadi cacing laut. “Selain Pantai Seger, nyale juga banyak muncul di Pantai Dundang, Pantai Gerupuk, dan Pantai Mawun,” papar Mirate.

Dia berharap, melimpahnya nyale tahun ini menjadi pertanda baik bagi kehidupan manusia. Tidak saja di Gumi Tatas Tuhu Trasna, NTB atau Indonesia.

Senada dikatakan Kades Rambitan Lalu Minaksa. Dia mengatakan, saat sangkep warige atau duduk bersila sembari bermusyawarah mufakat, ada dua versi prediksi nyale muncul. Pertama, diperkirakan muncul 2-3 Februari lalu. Kedua 3-4 Meret. “Hasilnya, kedua prediksi itu benar adanya,” tandas Minaksa.

Sehingga warga menyebutnya, ada nyale tunggaqnyale poto, dan nyale bekedeq. Kendati demikian, apapun itu namanya tahun ini warga bisa tersenyum lebar. Karena, hasil tangkapannya melimpah.

Ada yang dibawa pulang, guna di masak dan dibagi-bagikan ke keluarga, tetangga dan kerabat terdekat lainnya. Ada pula yang dijual di pasar. “Kalau kita kait-kaitkan, ini bertanda Covid-19 tahun ini juga berakhir,” ujar Minaksa.

Untuk itu, pihaknya mengajak warga tetap patuh dan disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Sementara jajaran Polres, Kodim, dan Satpol PP Lombok Tengah masih siaga mengantisipasi kerumunan warga yang datang untuk bau nyale di seluruh pantai di wilayah selatan. Bagi warga yang beridentitas luar Gumi Tatas Tuhu Trasna, tidak diperkenankan masuk pantai.

“Kami dari tim gabungan menerjunkan 350 personel,” kata Kabag Ops Polres Loteng Kompol I Kadek Suparta.

Kata dia, sejak awal pemkab dan unsur Forkopimda sudah mengingatkan warga agar tidak menggelar bau nyale. Hanya saja, karena ini menyangkut tradisi tahunan, maka pemerintah dan aparat tidak bisa berbuat banyak. Kecuali membatasi pengunjung. Kemudian tidak ada acara seremonial. “Kita bersyukur, semua berjalan lancar, aman dan terkendali,” tandasnya.

Yang tidak kalah pentingnya, setiap pengunjung yang datang menerapkan protokol kesehatan. Mereka tetap memakai masker, menjaga jarak duduk dan jarak berdiri, dan menghindari kerumunan.

Dandim 1620/Loteng Letkol Inf I Putu Tangkas Wiratawan mengatakan, sejak beberapa hari lalu, pasukannya siaga di 16 titik pintu masuk pantai. “Kita barengi juga dengan patroli, menyisir wilayah-wilayah yang dianggap rawan,” papar Tangkas.

Dalam kesempatan itu, pihaknya juga mengingatkan warga tetap menjaga kondusivitas daerah. “Memang tidak bisa kita pungkiri, masih ada sebagian warga yang tidak mematuhi prokes,” sindir Tangkas dilansir lombokpos.jawapos.com.

Untuk itulah, pihaknya langsung menegur dan memberikan edukasi. “Covid-19 tidak bisa diremehkan, tidak bisa diabaikan dan tidak bisa dibiarkan. Sehingga harus bersama-sama memutuskan mata rantai penularannya,” pungkasnya. (*/cr4)

Komentar

Berita Lainnya