oleh

FIFA, Sepak Bola, dan Isu Israel-Palestina

PASCA pencoretan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 oleh FIFA, slogan ‘jangan mencampuradukkan olahraga dan politik’ seolah menjadi baku. Isu Israel-Palestina sebagai pemantik bergema di kalangan masyarakat. Tetapi hal itu tampaknya menjadi dilematis saat FIFA dilibatkan dalam protes perserikatan sepak bola Palestina terhadap Israel.

Terhitung sudah tiga kali Federasi Sepak Bola Palestina, PFA –Palestine Football Association–, melayangkan laporan atas aksi-aksi kontroversial Israel di dunia sepak bola. Mulai dari pembatasan aktivitas hingga yang terbaru, penembakan gas air mata ke dalam stadion di Palestina.

Tiap kali pihak PFA mengajukan protes dan berharap FIFA memberikan sanksi kepada Israel, federasi sepak bola dunia itu terkesan tak mau ikut campur. Tentu saja keputusan FIFA itu membuat Palestina dan pihak-pihak pendukungnya kecewa.

Alhasil, Israel pun dianggap oleh sebagian publik dunia selalu lolos dari sanksi FIFA atas laporan yang disampaikan Palestina. Keluhan demi keluhan telah disampaikan Federasi Sepak Bola Palestina pada 2015, 2017, dan yang terbaru tahun ini.

Pada tahun 2015, Federasi Sepak Bola Palestina memprotes keras aksi tentara Israel yang membatasi aktivitas para atlet sepak bola Palestina. Bahkan pihak Israel juga mengatur wilayah bermain pada tiap klub sepak bola Palestina.

Selain itu, pemblokiran peralatan olahraga impor ke dalam wilayah Palestina dan pelarangan tim asing untuk datang, menjadi pelanggaran hukum FIFA yang dilakukan Israel.

Presiden PFA, Jibril Rajoub, dilansir liputan6, mengatakan saat itu Israel masih menganiaya pemain-pemain Palestina, atlet lainnya, dan mencegah masuknya peralatan olahraga.

Baca Juga:   IPW Minta Polri Tak Beri Izin Liga 1 dan 2 Dihelat

Presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter, sempat bertemu dengan perwakilan Israel atas permintaan banyak pihak untuk menghukum negara itu dari kegiatan sepak bola dunia. Blatter juga sempat membentuk tim gugus tugas untuk melihat hubungan antara Palestina dan Israel.

Presiden Federasi Sepak Bola Israel, Ofer Eini, bahkan melakukan pertemuan dengan FIFA pada 29 Mei 2015, bertepatan dengan Kongres FIFA.

“Pertemuan dengan Sepp Blatter sangat signifikan dalam perjuangan kami untuk membatalkan kemungkinan pemungutan suara yang diadakan di Kongres FIFA untuk menunda Israel,” kata Eini kala itu, melansir Reuters.

Sayangnya, Ketua Umum PFA, Jibril Rajoub, akhirnya mencabut laporannya kepada FIFA. Israel pun terbebas dari hukuman. Jibril Rajoub mengaku ia mendapat bujukan dari berbagai Ketua Umum Federasi seluruh dunia agar tak melanjutkan protes kepada FIFA lantaran mereka tak mau ada federasi yang terkena sanksi oleh FIFA.

“Saya memutuskan membatalkan penangguhan, namun tak berarti saya menyerah. Puluhan presiden federasi dari Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Eropa berkata kepada saya bahwa mereka tak ingin ada penangguhan federasi,” terang Jibril Rajoub, seperti dilansir dari Reuters

Sekitar dua tahun kemudian, tepatnya pada 2017, Ferderasi Sepak Bola Palestina kembali melayangkan keluhannya atas aksi Israel kala itu. PFA tak terima enam klub asal Israel memiliki markas di wilayah tepi barat Palestina.

Baca Juga:   Keterwakilan Perempuan Masih Minim Dalam Politik

Melansir aljazeera.com, FIFA kala itu memutuskan untuk tidak mengambil sikap terhadap masa depan enam klub sepak bola Israel yang bermarkas di pemukiman Tepi Barat Palestina secara ilegal.
Perwakilan FIFA, sempat menyampaikan responsnya atas isu ini di Kolkata, India. Disebutkan bahwa isu ini memiliki kompleksitas dan sensitivitas luar biasa yang bersifat politis.

“Mengingat status akhir wilayah Tepi Barat adalah urusan otoritas hukum publik internasional yang kompeten, Dewan FIFA setuju bahwa FIFA, sejalan dengan prinsip umum yang ditetapkan dalam undang-undangnya, harus tetap netral terkait masalah politik,” perwakilan FIFA mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Selain itu, telah disepakati bahwa campur tangan apa pun oleh FIFA dalam status quo sepak bola tanpa persetujuan dari pihak terkait dapat memperburuk situasi sepak bola tidak hanya di wilayah yang bersangkutan, namun juga di wilayah yang lebih luas yang terkena dampaknya –yang tidak akan menjadi kebutuhan sepak bola,” sambungnya.

Presiden FIFA yang diangkat pada 2016 dan masih menjabat hingga sekarang, Gianni Infantino, pada saat itu juga mengungkapkan keengganannya untuk ikut campur masalah wilayah di Palestina. Ia menyampaikan bahwa kasus tersebut lebih masuk ke ranah hukum publik internasional ketimbang FIFA.

“FIFA memutuskan untuk menahan diri dalam menjatuhkan sanksi atau tindakan lain baik itu kepada FA Israel maupun FA Palestina. Wilayah yang disengketakan menjadi perhatian otoritas hukum publik internasional dan FIFA harus tetap netral,” ujar Gianni Infantino saat itu, melansir Reuters.

Baca Juga:   Aktris Marissa Haque Tutup Usia, Tinggalkan Jejak Politik dan Akademik Mengesankan

Aksi terbaru Israel yang sangat gamblang di depan mata terjadi belum lama ini. Pada Kamis (30/3/2023) malam, pasukan Israel menembakkan gas air mata di dalam Stadion Internasional Faisal Al-Husseini di jalan Dahiat al-Barid di al-Ram, sebuah kota di Yerusalem Timur, dikutip dari laman middleeasteye.net, Rabu (5/4/2023).

Akibatnya, beberapa pemain dan penggemar sepak bola Palestina yang ada di lokasi, mengalami sesak napas dan tersedak setelah pasukan Israel menembakkan gas air mata. Pelemparan dilakukan selama pertandingan final piala di Yerusalem Timur, Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) menyampaikan.

Beberapa pemain sepak bola Palestina dan puluhan suporter, termasuk anak-anak, menderita lantaran menghirup gas. Bahkan banyak dari mereka yang dirawat di lapangan, sementara tiga orang dibawa ke rumah sakit.

PFA menyatakan, penyerangan terjadi saat jeda turun minum dalam pertandingan antara Markaz Balata, klub dari Nablus, dan Jabal Al-Mukaber dari Yerusalem.

“Tanpa peringatan sebelumnya, tentara pendudukan menghujani stadion dengan bom gas, yang jatuh di lapangan dan di antara tribun, di mana ratusan penggemar, termasuk anak-anak, hadir,” kata PFA.

PFA kemudian mengajukan keluhan kepada FIFA tentang insiden tersebut dan mengkomunikasikan masalah ini dengan federasi sepak bola di Asia dan seluruh dunia “untuk mengakhiri terorisme terhadap olahraga”.

Hingga kini, FIFA masih belum menjatuhkan sanksi ataupun tindakan terkait situasi ini. (*)

Berita Lainnya